Event B20 Tingkatkan Investasi Berkesinambungan

Event B20 Tingkatkan Investasi Berkesinambungan

Oleh : Aprilian Hutapea

Keberadaan Investasi di Indonesia harus bisa dimanfaatkan dengan baik, terlebih lagi kemudahan bagi investor untuk menanamkan modal di Indonesia akan menjadi daya tarik untuk menjadikan Indonesia sebagai destinasi investasi yang berkesinambungan.

Ketua Bidang UMKM di Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Ronald Walla memberikan apresiasi atas terselenggaranya B20 Indonesia, acara tersebut bertujuan agar para pengusaha UMKM mampu mengelola bisnis yang berkesinambungan.

Pembahasan terkait rantai pasok dan bisnis berkesinambungan ini mengemuka dalam The Business 20 atau B20 yang merupakan forum Bisnis dalam Presidensi G20 di Indonesia yang diselenggarakan di Jawa Timur pada 16 September 2022dan diikuti oleh para pegiat usaha.

Diskusi secara spesifik menyoroti perihal proses rantai pasok yang efisien sehingga dapat berdampak positif terhadap bisnisnya.

Ronald berujar, salah satu strategi bisnis yang ditekankan B20 adalah pengusaha UMKM harus memahami rantai pasok secara lebih baik terhadap keunggulan produk yang dimiliki sehingga memiliki daya kompetitif yang baik bagi perusahaan sehingga dapat memenuhi ekspektasi pelanggan.

Penyelenggaraan G20 di Bali pada November mendatang akan membahas secara khusus hal yang berkaitan dengan perdagangan dapat membuka peluang besar dari pelaku UMKM untuk masuk ke dalam sistem rantai pasok global.

Para pemangku kepentingan dari seluruh dunia diyakini bisa memberikan akses pelaku UMKM dari Indonesia untuk masuk ke dalam sistem tersebut.

Dengan pendekatan yang dilakukan selama gelaran G20 itu diharapkan pelaku UMKM dalam negeri dapat secara inklusif masuk ke sistem rantai pasok global. Ronald menyampaikan para pegiat UMKM dan pelaku usaha di seluruh sektor industri untuk mempraktikkan model bisnis dan investasi yang berkesinambungan berbasis prinsip environment, social, governance (ESG).

ESG ini ternyata telah populer di lima pasar utama Eropa, Amerika Serikat, Jepang, Kanada, Australia dan Selandia Baru. Investasi berkelanjutan ini tentunya sangat mempertimbangkan lingkungan, sosial dan tata kelola perusahaan.

Perusahaan yang menjalankan konsep ESG akan lebih mudah mendapatkan investasi dan menjadi pertimbangan dasar bagi para investor dalam melakukan pengambilan keputusan untuk berinvestai atau tidaknya dalam suatu perusahaan.

Ronald menjelaskan, perusahaan yang mengimplementasikan konsep ESG ini akan dapat memberikan nilai tambah kepada para pemangku kepentingan, ekologi dan masyarakat melalui pemberdayaan komunitas.

Sejumlah lembaga nirlaba juga telah mengampanyekan praktik bisnis dan investasi berbasis ESG. Wismilak Foundation, misalnya, menggelar Diplomat Succes Challenge atau DSC untuk mendorong pertumbuhan wirausahawan berusia 20-45 tahun.

Forum diskusi ini juga memacu UMKM untuk terintegrasi dengan sistem rantai pasok global dan berinisiatif untuk mendampingi UMKM dalam melakukan transformasi digital agar dapat berakselerasi ke rantai pasok global. Selain itu, UMKM diharapkan bisa mengkreasikan model bisnis yang berkelanjutan berbasis ESG.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Task Force Side Event dan CEO ASYX, Lishia Erza mengatakan, ke depannya harus ada perubahan tentang tata kelola rantai pasok secara global maupun nasional.

Tantangannya adalah diharapkan adanya kerja sama antara perusahaan secara jangka panjang.
Dalam forum B20 ini, rupanya mencakup banyak hal, yakni pembiayaan dan kapasitas industri, hubungannya dengan usaha yang lebih kecil, serta bagaimana pemerintah menjadi katalis.
Demikian pula dari sisi keuangan.

Harus diperkenalkan banyak model keuangan baru, mengingat pentingnya institusi keuangan bekerja sama dengan regulator yaitu Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan lainnya. Nantinya pasca B20 akan ada rancangan program hingga lima tahun ke depan untuk membina UKM dan level industri dari segala sisi.
Program yang telah terselenggara sejak tahun 2010 ini merupakan inkubator kewirausahaan yang memperkokoh ekosistem wirausaha di Indonesia, serta mendukung bisnis berkelanjutan dalam ajang yang diselenggarakan B20 Indonesia.
DSC merupakan salah satu contoh yang bagus, program ini sangat komprehensif, pengetahuan yang diberikan mampu memperkaya secara bisnis, perilaku sebagai pelaku usaha dan etika berusaha. Hal ini menjadi modal para peserta DSC untuk bisa berkembanga dan maju lebih besar.
Event B20 juga menyoroti isu keberlanjutan lingkungan di mana Indonesia memiliki peran strategis untuk menanggulangi krisis iklim yaitu restorasi sumber daya alam.
Executive Director Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Herlina Hartanto, menjelaskan bahwa untuk dapat merangkul stakeholder utama yaitu masyarakat desa yang dekat dengan hutan tropis, gambut dan lainnya, upaya yang dilakukan adalah dengan pemberdayaan masyarakat dan ekonomi.
Tentu saja harus ada investor untuk program tersebut, di mana investor akan memberikan dana dengan melihat sisi produk dan proses produksi apakah ada prinsip ramah lingkungan. Investor atau perusahaan model ventura juga memiliki ketertarikan kepada UMKM yang ramah lingkungan dan berdampak sosial.
Event B20 rupanya mampu memberikan dampak positif tidak hanya pada ekonomi, tetapi juga pada lingkungan di mana produk yang ditawarkan mengandung prinsip ramah lingkungan.

)* Penulis adalah kontributor Ruang Baca Nusantara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *