Bambang Haryo Ingin Seluruh Komponen Banggakan Batik Khas Sidoarjo

Sidoarjo – Ketua Dewan Penasehat DPD Partai Gerindra Jatim, Bambang Haryo Soekartono, Kamis (6/10) menyambangi pengrajin Batik khas Sidoarjo di dusun Kauman, Desa Kedung Cangkring, Kecamatan Jabon.

Kedatangan anggota DPR-RI periode 2014-2019 ini, sebagai bentuk kepeduliannya terhadap batik khas Sidoarjo dalam memperingati hari batik Nasional yang diperingati setiap 2 oktober.

Menurutnya, di Hari Batik Nasional, masih sedikit pejabat dan masyarakat yang peduli. Bahkan, kata dia, Hampir tidak ada yang memperingati Hari Batik Nasional, padahal Batik ini sempat jadi rebutan dengan Malaysia pada zaman Presiden SBY dulu. Batik ini harus dilestarikan sebagai Budaya Bangsa.

“Seharusnya semua komponen termasuk masyarakat mulai saat ini memberdayakan, mencintai dan menggunakan Batik sebagai karakter Bangsa. Orang Indonesia wajib menggunakan Batik. Ini merupakan kebanggaan kita. Masyarakat Dunia seperti Eropa, Amerika dan yang lainnya telah mengakui bahwa Batik adalah salah satu karakter Budaya Bangsa Indonesia,”Tandasnya.

Lebih lanjut dikatakan pemilik sapaan akrab BHS, sudah seharusnya Pemkab Sidoarjo menerapkan penggunaan Batik setiap 2 kali dalam seminggu untuk para ASN yang berada di lingkungan Pemkab Sidoarjo.

Dikatakannya, hal itu sempat ia gaungkan dalam pencalonannya sebagai Bupati Sidoarjo tahun lalu. Selain itu, dirinya berharap berbagai jenis batik seperti, batik udang, cangkring dan yang lainnya menjadi salah satu icon Sidoarjo dan digunakan oleh masyarakat Sidoarjo.

“Saya sangat menginginkan batik khas Sidoarjo ini digunakan oleh seluruh komponen di Sidoarjo. Hal itu sebagai upaya menempatkan batik sebagai ciri khas atau icon Sidoarjo,” terangnya.

Anggota Dewan Pakar Partai Gerindra ini juga meminta Pemerintah Daerah dapat lebih memperhatikan pengerajin Batik khas Sidoarjo. Menurut data di lapangan, kebanyakan pengrajin Batik di Sidoarjo menjual Batiknya ke luar daerah.

“Mumpung pengrajin Batik khas Sidoarjo nya masih ada. Pemerintah harus hadir memberi solusi, agar Batik khas ini pasarnya tidak di luar daerah. Misalnya, pasar induknya di Sidoarjo wisatawan Sidoarjo kan bisa beli Batik khas sini sebagai oleh-oleh khas daerah,” ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan, Lutfi Aerjaka salah satu Distributor Batik khas Sidoarjo di Desa Cangkring, Jabon ini mengaku telah melakoni usaha Batik sudah puluhan tahun.

Namun, seiring waktu pihaknya sebagai distributor yang menghimpun puluhan pengrajin Batik khas Sidoarjo yang di produksi warga Cangkring. Kini, ia memutuskan untuk memesan melalui pengrajin luar daerah lantaran banyak pengrajin di Desanya yang gulung tikar.

“Dulu warga sini banyak yang pengrajin Batik mas. Karena proses pembuatan yang mahal dan tidak adanya pasar induk yang menampung di Sidoarjo akhirnya banyak yang bangkrut. Sekarang saya pesannya di luar daerah dikirim kesini dan dikemas disini terus dijual lagi di Bandung dan sekitarnya,” ungkap Lutfi.

Ia berharap Pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terkait keberadaan pengrajin Batik khas Sidoarjo. Bantuan stimulus usaha dan ruang untuk produksi Batik khas daerah menjadi harapan bagi para pengrajin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *