Jelang Hari Pahlawan, Bambang Haryo Nyekar Ke Makam Bung Tomo

Surabaya – Jelang hari Pahlawan 10 November. Anggota Dewan Pakar DPP Partai Gerindra Bambang Haryo Soekartono melakukan ziarah di makam Bung Tomo, Surabaya, Kamis (3/11).

Anggota DPR RI 2014-2019 ini hadir bersama anak yatim, Pengurus DPC Partai Gerindra Surabaya dan PAC Wonokromo. Serta, perwakilan dari Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kota Surabaya, H Soetrisno.

Ia juga mengundang anak yatim untuk melantunkan yasin dan tahlil mengirim doa bagi mendiang Bung Tomo beserta istri Sulistina Sutomo agar mendapat tempat terbaik di sisiNya.

“Kebetulan pahlawan yang banyak memotivasi semua pejuang yang sekarang ini jadi pahlawan, itu adalah Bung Tomo yang luar biasa menyemangati. Sehingga, kita bisa mengusir Inggris dan Belanda dari Bumi Indonesia,” kata BHS.

Rangkaian ziarah ini juga akan berlanjut ke Makam Gubernur Soerjo dan KH Hasyim Asy’ari, dan Moestopo. Mereka telah memimpin perjuangan puluhan ribu Arek-arek Suroboyo, sehinga dapat memenangkan peperangan.

“Karena beliau juga termasuk Pahlawan 10 November,” ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut, BHS mengapresiasi pemerintah, karena telah memberikan perhatian pada makam istri Bung Tomo. Makam tersebut telah dipugar sesuai harapan BHS tahun lalu.

“Karena beliau adalah pahlawan nasional. Termasuk ibu juga adalah pahlawan nasional sudah diberikan pada 2017 kemarin. Eyang Sutomo 2008, eyang putri 2017. Sehingga, harus ada perhatian,” ujar BHS yang juga Ketua Dewan Penasihat DPD Partai Gerindra Jatim ini.

BHS mengapresiasi Pemkot Surabaya karena telah memugar makam istri Bung Tomo. “Sekali lagi apresiasi untuk Wali Kota Surabaya,” ujarnya.

BHS juga akan mengirimkan bendera merah putih beserta tiang untuk dipasang di depan Makam Bung Tomo.

“Kalau perlu pasang spanduk nanti kita tulisi bahwa kita dalam memperingati Hari Pahlawan ini ikut mendoakan seluruh pahlawan yang sudah gugur mendahului yang lain,” tutur Penasihat Utama PT DLU ini.

Lebih lanjut, BHS berharap ada satu perhatian dari pemerintah kepada veteran. Baik dari pemerintah pusat, provinsi maupun daerah.

“Karena tanpa veteran kita tidak bisa merdeka seperti sekarang ini,” jelas BHS.

Ia melihat masih banyak hak-hak veteran belum terpenuhi. Seperti tunjangan veteran atau Tuvet. Di mana baru 75 persen.

“Kebetulan yang 50 persen saya juga ikut mendorong pada waktu zamannya Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono). Terus yang 25 persen saya juga ikut mendorong ke Kemenhan,” kata BHS seraya berharap Presiden Jokowi bisa menuntaskan Tuvet menjadi 100 persen bersama Menhan Prabowo Subianto.

Selain Tuvet, BHS juga ingin agar pemerintah memperhatikan fasilitas makam pahlawan yang sudah penuh di beberapa tempat.

“Ini perlu adanya perhatian dari pemerintah. Karena dua atau tiga kali lipat daripada pahlawan kita yang belum mendapatkan jatah makam dan lain-lain,” ucap BHS.

Perwakilan dari LVRI Surabaya, H Soetrisno pada kesempatan tersebut bercerita bagaimana perjuangan para pahlawan merebut kemerdekaan pada 10 November 1945.

Perang 10 November bukan tanpa sebab. Diawali dengan aksi Belanda mengibarkan bendera Merah Putih Biru di Hotel Oranje atau Yamato yang sekarang bernama Hotel Majapahit.

Sepeninggal Jenderal Inggris Mallaby, ada ultimatum pihak Inggris kepada rakyat Surabaya agar menyerahkan senjata di atas kepala. Bagi yang tidak menyerahkan bakal dibunuh.

“Ini menimbulkan antusiasme rakyat Surabaya, Arek-arek Suroboyo menjadi garang dan emosi. Seberani itu Belanda dan Inggris di tanah kita yang sudah merdeka berdaulat,” kisahnya.

Setelah itu, Arek-arek Suroboyo bergerak melakukan perlawanan dan tidak ada jalan lain. Mereka penuh keberanian angkat senjata. Dibantu dengan orasi-orasi Bung Tomo.

“Di antaranya Merdeka atau Mati, Pantang Menyerah kemudian Rawe-rawe Rantas Malang-malang Putung, Tidak Kenal Menyerah,” pungkas H Soetrisno.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *