Surabaya – Upaya memperkenalkan manuskrip naskah kuno karya Ulama Nusantara terus dimasifkan. Setelah diseminarkan dan dipamerkan di Cultural Palace Diplomatic Quarter Riyadh Saudi Arabia, 27 November 2022 silam, kini kegiatan tersebut kembali digelar.

Seminar dan pameran bertema ‘Warisan Intelektual dan Kontribusi Ulama Indonesia terhadap Peradaban Islam dan Perdamaian Dunia’ ini digelar di Masjid Al Akbar Surabaya (MAS), Kamis (22/12).

Hadir membuka acara tersebut Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa diwakili Asisten Administrasi Umum Setdaprov Jatim Dr. AKH. Jazuli, SH, MSi.

Tampak juga para narasumber seperti Koordinator Kelompok Substansi Pengelolaan Naskah Nusantara Perpusnas Luthfiati Makarim, S.S., M.M, Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam UIN KH. Ahmad Shiddiq (KHAS) Jember Prof. Dr. H. Abdul Halim Soebahar.

Selanjutnya ada Pengasuh Pondok Pesantren Canga’an Bangil Pasuruan Ahmad Kholily Kholil GML serta Wakil Direktur Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) Dr. H. Hammis Syafaq.

Dalam sambutannya, mewakili Gubernur Khofifah Indar Parawansa, Asisten Administrasi Umum Setdaprov Jatim Dr. AKH. Jazuli, SH, MSi menyampaikan rasa bangga dan mengapresiasi kegiatan tersebut. Dirinya berharap, acara tersebut memberikan amalan yang luar biasa bagi kemaslahatan umat.

“Terlebih lagi dapat berkontribusi terhadap keilmuan Islam di negeri kita dan dunia,” kata AKH. Jazuli, SH MSi.

Lebih lanjut dirinya menjelaskan, bahwa pengalaman Ibu Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengikuti seminar dan pameran di Riyadh Saudi Arabia beberapa saat lalu dinilai sangat berkesan. Dimana ajang tersebut mendapat sambutan luar biasa oleh pemerintah setempat.

“Ini menjadi pengalaman yang luar biasa, dimana karya-karya intelektual para ulama kita sangat memberikan manfaat besar, utamanya terhadap perkembangan Islam di dunia,” katanya.

Jazuli menjelaskan, di abad 19 dan 20, para Ulama Nusantata memiliki kiprah yang luar biasa. Peran mereka tidak hanya bersifat lokal tetapi langsung di pusat-pusat intelektual Islam.

“Pusat-pusat intelektual itu seperti di Saudi Arabia, Yaman, Irak, Turki dan Mesir. Ada yang belajar dan berkarya di Timur Tengah juga berkarya di Indonesia. Namun karyanya berkaliber internasional,” terangnya.

Ulama asal Indonesia tersebut seperti Syaikh Nawawi Al-Bantani, Syaikh Yasin Al-Fadani, Syaikh Arsyad Al-Banjari, Syaikhana Muhammad Kholil Bangkalan, Syaikh Mahfud At-Tarmasi dan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari.

“Untuk itu, hubungan yang luar biasa antara Ulama Indonesia dan Timur Tengah perlu diperkenalkan kembali kepada dunia yang lebih luas,” jelasnya.

Menurutnya, peran para ulama Indonesia dinilai sangat penting. Tidak dalam segi keagamaan saja tetapi juga mencakup bidang-bidang lain seperti sosial, politik dan budaya.

“Bahkan Clifford Geertz dalam bukunya yang berjudul The Religion of Jawa sendiri menyebut bahwa Ulama atau Kyai sebagai Cultural Broker atau pialang budaya,” ungkapnya.

Sehingga, pengenalan kembali karya-karya Ulama Indonesia kepada dunia internasional juga menjadi media untuk menyebarkan ajaran Islam yang tasammuh, tawassuth, dan cinta tanah air.

“Jejak penyebaran dan pengajaran Islam yang moderat, damai dan cinta tanah air ini bisa dilihat dari berbagai manuskrip dan karya beliau yang dipamerkan saat ini,” terangnya.

Jazuli pun menceritakan, bahwa para Ulama Indonesia di abad 18 memiliki jaringan yang luar biasa dengan ulama sebelumnya. Kendati tidak memiliki hubungan langsung antara guru dan murid, tetapi guru mereka di Mekkah dan Madinah termasuk tokoh-tokoh terkemuka.

Dirinya menegaskan, kontribusi ulama Indonesia bahkan sudah dimulai sejak abad ke-14. Sudah banyak kitab-kitab dilahirkan. Seperti Syeikh Nawawi Al Bantani, memiliki 30 karya kitab turots. Namun yang sudah terdigitalisasi baru enam kitab. Sehingga yang bisa diakses masyarakat baru enam dari 30 kitab.

Begitu juga dengan karya Syaichona Kholil, dari 32 kitab karya ulama asal Bangkalan tersebut, baru dua yang sudah terdigitalisasi.

“Jadi saat ini kondisinya adalah banyak manuskrip karya ulama Indonesia yang ada di Belanda, Inggris, Timur Tengah maupun Afrika. Sehingga pertemuan hari ini kami harap akan menjadi awalan baru untuk menjadi titik temu karya ulama dunia,” tegasnya.

Sementara menurut Pengasuh Pondok Pesantren Canga’an Bangil Pasuruan Ahmad Kholily Kholil menyampaikan, bahwa agama Islam telah berkembang di Indonesia sejak abad ke 7 Masehi atau abad pertama 1 Hijriyah.

“Islam pertama berkembang ke nusantata di abad ke 1 Hijriyah melalui perantara arab lewat perdagangan dimana pedagang dari Arab yang bersifat dan dan berakhlak baik, yang kemudian terbentuk komunitas Islam di kawasan Sumatera dan berdirinya Kerajaan Samudera Pasai,” kata Kholily.

Perkembangan Islam yang begitu pesat terdengar para Ulama Arab Saudi dan disambut sangat baik. Bahkan ulama Arab dikirim ke Indonesia untuk memasifkan perkembangan Islam di nusantara.

“Saat Islam sudah berkembang pesat di Indonesia, ulama nusantara membangun perhimpunan ulama supaya islam di nusantara sampai ke seantero dunia. Di aceh ada Syeikh Abdul Rouf Al Sinkili, Syeikh Yusuf dari Makasar, Syeikh Arsyad dari Banjar, Syeikh Abdussomad dari Palembang juga Syeikh Al Nawawi dari Banten atau Syeikh Nawawi Al Bantani. Juga ada dari Bogor dan Minangkabau,” tegasnya.

Tidak hanya ulama di Indonesia yang memiliki semangat menyebarkan Islam. Namun ulama Indonesia yang ada di Arab Saudi pun memiliki semangat untuk menjaga Islam yang toleran dan moderat.

“Maka Ulama Nusantara di Arab Saudi di tahun 1303 hijriyah atau 1930 masehi mendirikan Madrasah Darul Ulum atau yang dikenal dengan Madrasah Sholatiyah,” tandasnya.

Dengan inisiasi itu, maka ulama Indonesia yang ada di Arab Saudi menjadi semakin terpandang. Bahkan, Ulama Indonesia khususnya dari Jawa memiliki andil besar di segala bidang di Arab.

“Di antara mereka ada yang menjadi Ketua MUI ada yang menjadi imam solat, dan tidak terhitung yang menjadi pengajar di Masjidil Haram. Bahkan ada yang membangun yayasan khusus perempuan, ada yang menjadi mothowif dan menjadi penulis. Dari situlah peran Ulama Indonesia semakin pesat untuk peradaban di Hijaz Arab Saudi,” pungkasnya.