Jakarta – Pemerintah melaporkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hanya akan mencapai 2,49% pada akhir tahun ini. Besaran defisit ini jauh dari perkiraan awal sebesar 4,5% terhadap PDB.
Bahkan, jauh lebih rendah dari realisasi tahun lalu yang mencapai 3,64% atau Rp 617,4 triliun.

“Hitungan terakhir kita 2,49%. turun drastis pada saat pandemi. Ini upaya kita agar ekonomi makro kita lebih baik dalam angka,” kata Presiden Joko Widodo atau Jokowi dalam Outlook Perekonomian Indonesia 2023, dikutip Kamis (22/12).

Defisit yang rendah ini disumbang oleh kuatnya penerimaan negara sepanjang 2022. Dari sisi pendapatan negara, sampai dengan akhir 14 Desember 2022 tercatat sebesar Rp2.337,5 triliun, sukses melampaui target APBN 2022 dalam Perpres 98/2022 sebesar Rp2.266,2 triliun.

Penyumbang terbesar salah satunya adalah penerimaan pajak per 14 Desember 2022 yang mencapai Rp1.634,36 triliun atau naik 41,9%, dibandingkan tahun lalu Rp1.151,5 triliun.

Bahkan, penerimaan pajak telah melampaui target sebesar 110,06% dari target Perpres 98. Penerimaan ini cukup tinggi didorong oleh sektor pertambangan, akibat adanya booming harga komoditas.

Di tengah defisit ini, pemerintah ternyata menyimpan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) ratusan triliun. Dari data Kementerian Keuangan, SiLPA per 14 Desember 2022 mencapai Rp 232,2 triliun.

Sebelumnya, dalam catatan dirilis Selasa (21/12), Bahana Sekuritas memperkirakan SiLPA di akhir 2022 akan mencapai Rp 270 triliun. Bahana meyakni SiLPA ini dapat memberikan ruang fiskal yang cukup bagi pemerintah tahun depan.

Pada awal Desember lalu, Kepala Pusat Kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (PKAPBN) Wahyu Utomo mengatakan SiLPA 2021 baru digunakan sebagian dan menyisakan Rp 165 triliun

Menurut Wahyu, SILPA bisa digunakan untuk memitigasi risiko yang muncul pada tahun depan, khususnya dalam hal pembiayaan APBN.

Dari perhitungan di atas, maka pemerintah berpotensi memiliki Saldo Anggaran Lebih (SAL) mencapai Rp 397,3 triliun. Sebagai catatan, SAL adalah saldo dalam keuangan yang berasal dari akumulasi SiLPA.