Surabaya — Dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), Anggota DPR RI Komisi VII dari Fraksi Gerindra, Bambang Haryo Soekartono (BHS), melaksanakan ziarah ke makam Dr. Soetomo yang terletak di Jalan Bubutan, Surabaya, Minggu (25/5/2025).

Usai berziarah, BHS mengunjungi Museum Dr. Soetomo yang berada di dalam satu kompleks dengan gedung GNI. Ia menyoroti kurangnya fasilitas di museum tersebut, termasuk tidak adanya proyektor permanen yang dianggap sebagai peralatan dasar dalam mendukung fungsi edukatif museum.

“Proyektor aja nyewa. Mosok proyektor museum nyewa? Itu anggaran Surabaya kecil banget untuk sebuah proyektor,” kritik BHS saat ditemui di lokasi.

Menurutnya, minimnya fasilitas modern di museum bisa menurunkan minat kunjungan, padahal wisata edukasi seperti ini justru sangat digemari oleh wisatawan asing.

“Mereka (turis mancanegara) lebih suka museum, lebih suka budaya dan sebagainya,” ujarnya.

Ia mendesak Pemerintah Kota Surabaya, khususnya dinas kebudayaan dan pariwisata, untuk segera melakukan pembenahan secara menyeluruh agar Museum Dr. Soetomo menjadi lebih representatif dan mampu menarik perhatian masyarakat luas.

Tak hanya dari sisi teknologi, BHS juga mengusulkan agar museum dihidupkan melalui kegiatan seni dan budaya. Menurutnya, kehadiran pertunjukan seni seperti tari-tarian atau drama sejarah bisa menjadi daya tarik tambahan yang membangun atmosfer edukatif namun tetap menyenangkan.

“Ayo didorong muncul tarian-tarian dan sebagainya di sini untuk meramaikan museum ini,” seru BHS.

Lebih lanjut, ia mengajak generasi muda untuk meneladani semangat dan intelektualitas Dr. Soetomo sebagai pelopor organisasi politik pertama di Indonesia. BHS prihatin dengan kecenderungan generasi muda yang lebih larut dalam budaya digital yang tidak produktif.

“Generasi kita tolonglah jangan main TikTok atau yang nggak jelas dan sebagainya. Jadi ini kesempatan generasi kita untuk bangkit menjadi generasi yang hebat, kuat, dan cerdas untuk kepentingan Indonesia ke depan,” tegasnya.

Sementara itu, Deka Yudiawantiarsa selaku staf pengolahan museum dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya menyambut baik sorotan tersebut dan mengakui perlunya pembaruan teknologi di museum.

“Perlu sentuhan modern supaya masyarakat tidak mengenal museum itu kuno atau angker. Salah satunya, ya seperti proyektor itu tadi,” ungkap Deka.

Kunjungan ini menjadi pengingat bahwa warisan sejarah harus dirawat tidak hanya dengan seremonial, tetapi juga dengan kebijakan dan anggaran yang berpihak pada pelestarian nilai-nilai perjuangan bangsa.