Malaka, NTT, deliknews – Tenaga Pendidik, Sekolah Menegah Pertama Katolik (SMPK) St. Isidorus Besikama, menguat mutu pendidikan dengan penerapan berbagai metode pembelajaran terhadap anak didik.

Metode pembelajaran yang dilakukan oleh tenaga pendidik kepada anak murid, bukan saja terpaku pada Kurikulum yang berlaku. Tetapi penerapan para guru dengan litarasi dan nomerasi untuk mengetahui kemampuan anak.

Setelah itu, dikelompokan peserta didik sesuai dengan pengetahuan dan kemampuannya. Lalu, dari para guru memberikan pembelajaran dengan masing – masing cara untuk memudakan pemahaman anak untuk diserap materi – materi apa yang diberikan oleh guru.

Konsep yang dilakukan guru -guru di SMPK St. Isidorus Besikama, terhadap anak didik dengan berbagai cara, karena letak dasar mutu anak didik seshungganya ada di Sekolah Menegah Pertama (SMP). Ungkap Kepala Sekolah, Marselinus Seran, S. Pd, diruang kerjanya, Kamis 31/7/2025)

” Mutu anak didik sebelum melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi itu seshungguhnya, ada ditingkat Sekolah Mengah Pertama(SMP). Sebab; Mereka adalah anak sekolah yang di siapkan untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi.

Jika mutu anak didik tidak menguat dari tingkat SMP, maka kemampuan anak akan lemah dan mutu pendidikan pun, ikut merosot ditingkat Sekolah Menegah Atas (SMA),” tandas Kepsek.

Lanjut Kepala Sekolah, bahwa letak mutu pendidikan itu, tergantung dari kualitas guru sebagai tenaga pendidik. Dengan demikian, dari 32 guru dengan caranya masing – masing untuk mengajar anak murid sehingga para murid dapat mengerti dan memahami dengan cepat. Tandas kepsek demikian.

Pada tempat yang sama, Wakasek, Lusianus Nahak, Menikin, S. Pd. Gr, menyatakan perlu kita pahami bersama bahwa; peserta didik ditingkat SMP itu, diupayakan agar para siswa – siswi benar memahami dengan materi – materi pembelajaran yang diberikan oleh guru. Terang Wakasek, SMP St. Isidorus Besikama.

” Kalau anak didik kita tidak menguat pengetahuan ditingkat SMP, tentunya mereka tidak memahami materi pembelajaran di jenjang pendidikan yang lebih atas.

Karena, Ilmu pengetahuannya sudah lemah di tingkat pendidikan Sekolah Menegah Pertama (SMP). Apa lagi perolehan Ilmunya di Sekolah Dasar (SD) itu sudah lemah,” Pungkasnya. (Dami Atok)