Surabaya – Prestasi gemilang kembali diraih Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kota Surabaya. Dalam Kejuaraan Provinsi Jawa Timur, tim silat Kota Pahlawan sukses mempertahankan gelar juara umum dengan raihan 5 medali emas, 1 perak, dan 5 perunggu. Capaian ini menempatkan Surabaya jauh di atas pesaing terdekatnya.

Ketua Umum IPSI Surabaya, Bambang Haryo Soekartono (BHS), mengaku bangga atas kerja keras para atlet dan pelatih. Ia menilai, keberhasilan ini bukan hanya soal kemenangan, tetapi juga pembinaan berkelanjutan yang sudah dilakukan IPSI.

“Kami sudah menyiapkan regenerasi. Beberapa atlet senior yang tak lagi memperkuat tim akan kami dorong menuju level yang lebih tinggi, termasuk bergabung ke Puslatda untuk persiapan PON,” ujar BHS, Kamis (7/8/2025).

BHS juga menyinggung soal bonus yang dijanjikan pemerintah kota bagi para atlet dan pelatih. Ia meminta pihak terkait, termasuk Ketua KONI Surabaya Hoslih Abdullah dan Wali Kota Eri Cahyadi, segera merealisasikannya.

“Saya tadi memberikan sedikit apresiasi pribadi untuk memicu semangat. Harapannya, bonus resmi dari pemerintah bisa cepat turun karena ini sudah sangat dinanti,” tegasnya.

Meski torehan 5 emas belum memenuhi target internal IPSI yang mematok 6 emas, hasil ini tetap melampaui target KONI yang hanya mematok 4 emas. BHS optimistis, di Porprov 2027 yang digelar di Surabaya, pencapaian akan meningkat.


Ketua KONI Surabaya, Hoslih Abdullah, memastikan bonus atlet segera dicairkan. Ia menegaskan, nilainya akan lebih besar dibanding kabupaten/kota lain di Jawa Timur.

“Kalau daerah lain bonusnya Rp40 juta atau Rp60 juta, Surabaya akan memberikan lebih. Ini bentuk apresiasi atas keberhasilan mempertahankan juara umum,” ujarnya.

Hoslih juga menargetkan pencak silat bisa meraih 7 hingga 9 emas pada Porprov 2027, sekaligus menjadi cabang andalan menuju PON 2028.


Atlet peraih medali emas, Dicky Chandra Kurniawan, mengungkap rahasia di balik prestasinya. Latihan konsisten selama dua jam setiap hari, diawali dengan lari dan teknik, menjadi kunci kebugaran dan performanya.

“Persaingan ketat, terutama di babak final. Kami juga mempelajari strategi lawan sejak jauh hari,” ujarnya.

Dicky yang mulai menekuni pencak silat sejak duduk di bangku kelas 1 SMA kini bersiap menghadapi ajang nasional dan PON cabang bela diri. “Semoga bisa memberi yang terbaik,” pungkasnya.