PATI – Aksi demonstrasi ribuan warga Kabupaten Pati, Jawa Tengah, pada Rabu (13/8/2025) berujung ricuh. Massa yang menuntut Bupati Pati Sudewo mundur dari jabatannya terlibat bentrok dengan aparat kepolisian.
Aksi dimulai sejak pagi dengan titik kumpul di Alun-alun Pati. Berdasarkan data kepolisian, sekitar 25.000 massa datang dari berbagai kecamatan. Mereka membawa spanduk dan poster berisi lima tuntutan, yakni menuntut pengunduran diri Bupati Sudewo, menolak penerapan lima hari sekolah, menolak renovasi Alun-alun senilai Rp 2 miliar, menolak pembongkaran Masjid Alun-alun, serta menolak proyek videotron Rp 1,39 miliar.
Sekitar pukul 11.00 WIB, suasana memanas ketika massa berusaha mendekati pagar Kantor Bupati dan DPRD Pati. Lemparan botol air mineral dan benda keras mengenai barisan aparat. Polisi merespons dengan menembakkan gas air mata untuk membubarkan kerumunan. Situasi memuncak hingga terjadi perusakan fasilitas umum dan pembakaran satu unit mobil keamanan.
Akibat kericuhan ini, 34 orang mengalami sesak napas akibat gas air mata dan dirujuk ke rumah sakit. Belasan aparat keamanan, termasuk Kapolsek Kota Pati Iptu Heru Purnomo, juga terluka. Korban meninggal dunia dilaporkan tiga orang, dua di antaranya remaja, serta seorang jurnalis yang meliput jalannya aksi.
Bupati Sudewo menyatakan memahami emosi masyarakat dan akan menjadikan peristiwa ini sebagai pembelajaran. Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan mekanisme pemberhentian kepala daerah hanya dapat dilakukan melalui DPRD. DPRD Pati diketahui telah membentuk panitia khusus dan menggunakan hak angket terkait kepemimpinan Bupati Sudewo.
Pemerintah pusat melalui Menteri Sekretaris Negara menyatakan memantau ketat perkembangan situasi di Pati. Hingga sore hari, kondisi berangsur kondusif meski aparat masih berjaga di sekitar kantor bupati dan DPRD.
