Toba – Pakar transportasi sekaligus Anggota DPR RI, Bambang Haryo Soekartono, menilai Pelabuhan Penyeberangan ASDP Prapat memiliki potensi besar untuk diangkat menjadi hub pariwisata internasional. Pandangan itu ia sampaikan setelah melihat langsung kondisi pelabuhan yang berada di jantung Kota Prapat dan hanya berjarak sekitar lima kilometer dari Bandara Sibisa.
Menurut Bambang Haryo, pelabuhan ini memiliki infrastruktur yang jauh lebih maju dibanding banyak pelabuhan penyeberangan lain di Indonesia. Terminal penumpang yang tertata, area tunggu yang luas, fasilitas dermaga modern, serta keberadaan kapal penumpang dan kapal kendaraan dalam jumlah besar menunjukkan bahwa ASDP telah mengelola kawasan ini dengan standar tinggi. “Ini salah satu pelabuhan terbaik yang pernah saya lihat untuk skala danau,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa standar fasilitas yang sudah “internasional” ini tidak boleh berhenti pada tataran pelayanan penyeberangan semata. Pelabuhan Prapat, menurutnya, ideal dijadikan pusat aktivitas wisata Danau Toba, sekaligus pintu masuk wisatawan dari berbagai negara. Apalagi destinasi wisata di sekitar Prapat—mulai dari pemandangan danau, keunikan budaya Batak, hingga panorama bukit di sekelilingnya—telah lama menjadi magnet wisata.
Bambang Haryo menjelaskan bahwa integrasi dengan Bandara Sibisa merupakan kunci dari transformasi ini. Saat ini wisatawan yang datang ke Danau Toba umumnya harus menempuh perjalanan darat sekitar 150 kilometer dari Medan menuju Prapat. Kondisi ini sering menjadi kendala utama dalam pengembangan pariwisata. Karena itu, Bandara Sibisa harus menjadi penghubung udara utama, didukung dengan pelabuhan ASDP yang siap menyalurkan pergerakan wisatawan ke berbagai pulau dan kawasan wisata di sekitar danau.
Udara sejuk di ketinggian 700 meter dpl menurutnya adalah nilai tambah yang jarang dimiliki destinasi lain. “Pelabuhan ini bisa menjadi etalase keindahan Danau Toba,” kata Bambang Haryo. Ia mengusulkan agar pelabuhan dikembangkan sebagai pusat kuliner, lokasi festival budaya, hingga ruang publik modern dengan konsep waterfront yang ramah keluarga.
Politisi Partai Gerindra ini juga menyoroti keberadaan puluhan kapal penyeberangan yang hilir-mudik di sekitar pelabuhan. Jumlah armada yang cukup banyak ini menjadi indikator tingginya mobilitas masyarakat dan wisatawan, serta menunjukkan bahwa Danau Toba memiliki ekosistem transportasi air yang sangat hidup. Ia menilai sudah waktunya pemerintah memberikan dukungan serius, termasuk perbaikan standar keselamatan kapal dan peningkatan kapasitas dermaga jika dibutuhkan.
Dalam pandangannya, Pelabuhan ASDP Prapat dapat menyamai kawasan-kawasan wisata kelas dunia bila pengembangan dilakukan secara terpadu. Dengan branding yang kuat, promosi internasional, dan integrasi moda transportasi, Danau Toba akan memiliki daya saing yang tak kalah dari destinasi danau populer seperti Lake Geneva di Eropa atau Lake Kawaguchi di Jepang.
Bambang Haryo menegaskan bahwa tugas pemerintah bukan hanya membangun, tetapi memastikan bahwa infrastruktur yang sudah ada digunakan seefektif mungkin. “Kawasan ini sudah sangat layak. Tinggal kemauan kita untuk menjadikannya ikon wisata internasional,” tandasnya.
