Surabaya — Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono menegaskan pentingnya peran pasar tradisional dalam menjaga denyut ekonomi kerakyatan di tengah gempuran pasar modern dan maraknya belanja daring. Ia mengajak masyarakat untuk tetap menjadikan pasar tradisional sebagai pilihan utama dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ajakan tersebut disampaikan Bambang Haryo saat melakukan kunjungan ke Pasar Wonorejo Polak, Surabaya, Jawa Timur, Rabu. Dalam suasana pasar yang ramai, ia menyapa pedagang, berdialog dengan pembeli, sekaligus meninjau langsung harga dan ketersediaan kebutuhan pokok.
“Kalau tidak belanja di pasar tradisional itu namanya bukan ibu-ibu. Ibu-ibu itu kebanggaannya bisa menawar dan menceritakan pengalamannya kepada suami,” ujar Bambang Haryo yang akrab disapa BHS, disambut tawa pengunjung pasar.
Menurut BHS, pasar tradisional bukan sekadar tempat transaksi ekonomi, tetapi juga ruang sosial yang menghidupkan interaksi antarwarga. Proses tawar-menawar, kedekatan antara pedagang dan pembeli, hingga sirkulasi uang yang langsung dinikmati masyarakat kecil menjadi kekuatan utama pasar tradisional.
Ia menilai, keberadaan pasar tradisional harus terus dipertahankan dan diperkuat, terutama di tengah ekspansi pasar modern dan platform belanja online yang semakin masif. Jika tidak ada keberpihakan kebijakan, pasar tradisional dikhawatirkan akan semakin terpinggirkan.
“Pasar tradisional itu pengungkit ekonomi rakyat kecil. Di sinilah pedagang mikro menggantungkan hidup. Kalau pasar ini mati, maka yang terdampak langsung adalah masyarakat bawah,” tegasnya.
Dalam kunjungannya, Bambang Haryo juga meninjau harga sejumlah kebutuhan pokok yang belakangan mengalami kenaikan, khususnya cabai dan bawang merah. Kenaikan harga tersebut kerap terjadi menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) akibat meningkatnya permintaan dan terganggunya pasokan.
Meski demikian, BHS menilai harga kebutuhan pokok di Pasar Wonorejo Polak masih relatif lebih terjangkau dibandingkan sejumlah pasar lain di Surabaya.
“Saya cek harga-harga di sini relatif masih lebih murah. Ini menunjukkan pengelolaan pasar berjalan baik, tapi tetap perlu dukungan dari pemerintah agar stabilitas harga terjaga,” katanya.
Bambang Haryo juga memberikan apresiasi terhadap pengelolaan Pasar Wonorejo Polak yang merupakan pasar tingkat RW dan dikelola langsung oleh warga setempat. Menurutnya, pasar berbasis komunitas seperti ini patut menjadi contoh karena mampu menciptakan kemandirian ekonomi lokal.
“Pasar ini dikelola warga, pedagangnya juga warga sekitar. Tata kelolanya cukup rapi dan kualitas dagangannya baik. Ini bukti bahwa ekonomi kerakyatan bisa berjalan jika diberi ruang,” ujarnya.
Sementara itu, salah seorang pedagang bumbu dapur, Musrifah, mengakui adanya kenaikan harga sejumlah komoditas akibat berkurangnya pasokan dari distributor.
“Yang lagi mahal cabai, bawang merah, wortel juga ikut naik. Sekarang memang banyak yang mahal,” kata Musrifah.
Meski demikian, ia mengaku tetap bersyukur karena pembeli masih cukup ramai dan pasar tradisional tetap menjadi pilihan warga sekitar.
Bambang Haryo berharap pemerintah daerah hingga pusat dapat memberikan perhatian lebih terhadap pasar tradisional, baik melalui perbaikan fasilitas, pengendalian distribusi pangan, maupun kebijakan yang berpihak kepada pedagang kecil. Dengan demikian, pasar tradisional dapat terus bertahan dan menjadi pilar utama ekonomi rakyat.
