Malaka, NTT, deliknews – Tragedi yang menimpa seorang siswa kelas IV SD berinisial YBS di Kabupaten Ngada, menjadi perhatian dari semua kalangan di Nusa Tenggara Timur, termasuk Warga Kabupaten Malaka.
Pehatian yang memprihatinkan terhadap kepergian (kematian) YBS (10) yang memilukan warga itu karena hanya gara – gara permintaan uang untuk membeli Buka dan Pena seharaga Rp.5000 atau Rp. 10.000, dari sang Ibu -Nya.
Dari kejadian yang menimpa anak SD tersebut, menjadi potret kelam dari warga terhadap kemajuan pendidikan nasional yang disampaikan oleh Servasius Teti seran SH, melalui pesan Whatssappnya ke media ini, Kamis (4/2/2026).
Menyita perhatian Publik, terhadap kematian YBS:
Kisah hidup mimilukan YBS (10) yang mengakhiri hidupnya hanya karena minta sang Ibu untuk membeli Buku dan Pena. Bukan membeli telpon seluler (HP).
Permintaannya untuk membeli buku dan pena tidak dapat dipenuhi oleh sang ibu karena keterbatasan ekonomi. Beberapa fakta mendasar yang memerlukan evaluasi serius.
Kesenjangan Jaring Pengaman Sosial Keluarga korban dilaporkan tidak tersentuh bantuan pemerintah pusat maupun daerah akibat kendala administrasi KTP.
Hal ini menunjukkan bahwa sistem birokrasi kita masih menjadi penghalang bagi masyarakat miskin ekstrem untuk mendapatkan hak dasarnya.
” Ditarik dari kontradiksi Prioritas Anggaran Makan Bergisi Gratis (MBG) yang diberikan untuk perorang senilai Rp. 15.000/ porsi. Dan kalau dihitung Rp. 15.000 dikali 26 hari, terdapat Rp. 390.000, tentunya anak bisa membeli Buku dan Pena.
Dengan demikian, program kebijakan pemerintah dari MBG, dapat dipertimbangkan kembali untuk apa disalurkan bisa tersentuh langsung kepada anak murid,” ujar Servasius Teti Seran, SH.
Lanjut Servasius Teti Seran, SH:
Di tengah kebijakan pengalihan anggaran untuk berbagai program baru, realita di lapangan menunjukkan masih adanya siswa yang harus bertaruh nyawa demi kebutuhan alat tulis yang harganya tidak seberapa.
Beban Psikologis di Usia Dini Kemiskinan struktural telah memaksa anak-anak di pelosok memikul beban pikiran yang belum saatnya mereka tanggung, hingga merasa menjadi beban bagi keluarga.
Peristiwa di Ngada adalah pengingat bahwa indikator kesuksesan pendidikan tidak boleh hanya dilihat dari angka statistik atau laporan di atas kertas.
Seharusnya, keberhasilan suatu kebijakan diukur dari sejauh mana negara hadir bagi mereka yang berada di titik paling bawah.
Pena dan buku yang gagal terbeli oleh almarhum adalah bukti bahwa masih ada celah besar dalam distribusi keadilan pendidikan di Indonesia. Jangan sampai wajah statistik kita terlihat rapi, namun realita di akar rumput tetap berdarah.
Semoga Dinas Pendidikan NTT dan pemerintah pusat, agar tidak tutup mata untuk melihat peristiwa ini. Tutupnya. (Dami Atok)
