JAKARTA — Nilai tukar rupiah semakin tidak bertenaga melawan kedigdayaan dolar Amerika Serikat (AS) menjelang penutupan perdagangan Jumat (29/5/2026). Sempat menguat dan menekan dolar AS pada awal pembukaan, mata uang Garuda justru berbalik arah dan terkoreksi tajam.
Data Bloomberg mencatat, mata uang Paman Sam sudah meroket hingga menyentuh level Rp 17.902 pada pukul 14.11 WIB. Angka ini melonjak cukup jauh dari level pembukaan perdagangan pagi yang berada di posisi Rp 17.820.
Pelemahan hari ini memperpanjang tren negatif mata uang domestik yang ditutup pada level Rp 17.845 pada Kamis (28/5) kemarin. Secara akumulatif, rapor merah rupiah tercatat sudah melemah sebesar 7,33% sepanjang tahun 2026 berjalan.
Hingga bel penutupan pasar, Bloomberg memproyeksikan pergerakan mata uang Garuda akan berfluktuasi di rentang Rp 17.813 hingga Rp 17.904. Tidak hanya keok dari dolar AS, rupiah terpantau keok melawan dolar Singapura yang merangkak naik ke level Rp 14.010 berdasarkan data Tradingview.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa tekanan berat ini bersumber dari masalah struktural ekonomi nasional. Indonesia dinilai masih memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap impor energi.
”Persoalan struktural pada perekonomian nasional, salah satunya terkait defisit neraca transaksi berjalan yang masih bergantung pada impor energi, terutama minyak mentah,” urai Ibrahim menjelaskan pemicu utama ambruknya rupiah, Jumat (29/5/2026).
Ibrahim pun memberikan alarm peringatan bahwa tren pelemahan ini masih berpotensi berlanjut secara signifikan. Jika sentimen negatif terus membayangi pasar keuangan, skenario terburuk mata uang Garuda menembus level psikologis baru bisa saja terjadi dalam waktu dekat.
”Untuk harga rupiah dalam minggu ini kalau tidak kena minggu depan ya itu Rp 18.000 sudah di depan mata. Karena saya melihat kalau Rp 18.000 ini tembus, kemungkinan besar ya ini akan menuju di Rp 18.200,” pungkas Ibrahim.
