JAKARTA – Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, merespons keras peristiwa pemadaman listrik massal (blackout) yang melumpuhkan sejumlah wilayah di Sumatera. Gangguan besar ini berdampak langsung pada jutaan masyarakat dan melumpuhkan berbagai aktivitas ekonomi daerah.
Menurut Eddy, pemadaman meluas yang merugikan lebih dari 13 juta pelanggan tersebut menjadi bukti nyata bahwa sistem kelistrikan nasional masih rapuh. Ia pun mendesak adanya evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terus terulang.
“Saya memahami PLN sedang bekerja keras melakukan pemulihan. Namun blackout berskala besar seperti ini tidak boleh dianggap sebagai kejadian biasa,” ujar Eddy dalam keterangan tertulisnya, Minggu (24/5/2026).
Politikus PAN ini menilai penjelasan PLN terkait cuaca buruk dan gangguan transmisi 275 kV Muara Bungo-Sungai Rumbai di Jambi harus menjadi alarm keras. Kerusakan tersebut mengindikasikan lemahnya ketahanan energi nasional dalam menghadapi dinamika lapangan.
Eddy secara khusus meminta PLN segera melakukan audit menyeluruh terhadap kesiapan jaringan transmisi, sistem proteksi, hingga mitigasi risiko bencana akibat cuaca ekstrem. Kerentanan infrastruktur ini dinilai berbahaya di tengah ketidakpastian iklim global saat ini.
“Kita hidup di era perubahan iklim. Karena itu infrastruktur kelistrikan nasional harus memiliki sistem cadangan dan mitigasi yang jauh lebih kuat agar tidak mudah mengalami efek domino,” tegas Doktor Ilmu Politik Universitas Indonesia tersebut.
Lebih lanjut, Anggota DPR RI Komisi XII ini menyoroti dampak sosial-ekonomi yang masif akibat lumpuhnya layanan publik, jaringan komunikasi, hingga usaha mikro warga. Eddy meminta PLN lebih transparan kepada publik mengenai penyebab utama dan solusi konkret ke depan.
“Jangan sampai masyarakat terus menjadi korban akibat lemahnya antisipasi dan minimnya modernisasi jaringan listrik nasional,” lanjut Eddy.
Sebagai solusi jangka panjang, ia mendorong pemerintah bersama PLN untuk mempercepat modernisasi jaringan melalui basis smart grid. Penguatan interkoneksi antarwilayah juga mendesak dilakukan agar sistem kelistrikan nasional lebih tangguh dari gangguan besar.
“Ketahanan energi bukan hanya soal pasokan listrik tersedia, tetapi juga soal keandalan sistem ketika menghadapi gangguan,” pungkasnya.
