Bali  

Halo Imigrasi? Ada WNA Diduga Gelapkan Hasil Usaha WNI di Bali

Caption: Fransisca Fannie Lauren Christie (kiri) didampingi Advokat Dr Togar Situmorang (kanan) Foto: db

Denpasar – Warga Negara Asing (WNA) yang disinyalir berkedok sebagai investor telah diduga menggelapkan hasil usaha rekan bisnisnya yakni Fannie Lauren seorang Warga Negara Indonesia (WNI) yang juga mantan Puteri Indonesia Persahabatan 2002.

Fannie selaku Direktur PT. Indo Bhali Makmurjaya merasa dizolimi serta dirugikan dengan tindakan LS asal negara Swiss yang disinyalir telah menyeludupkan administrasi hukum dalam sebuah perjanjian bisnis dan juga pengemplangan pajak perusahaan.

Dimana LS ini dikabarkan secara sepihak bertransaksi menyewakan property di Bali (milik PT. Indo Bhali Makmurjaya, red) terhadap WNA lain yang pembayarannya masuk ke rekening pribadinya dan hanya berapa persen saja disetorkan ke perusahan. Alhasil ketika pegawai pajak menemukan transaksi ini membebankan pajak negara kepada Fannie selaku Direktur PT. Indo Bhali Makmurjaya.

“Ini adalah korelasi tanggung renteng dari laporan kita terdahulu di Bareskrim Mabes Polri yang kita harapkan cepat bergerak agar kita tahu bahwa pelaku ini bukan satu kali atau dua kali melakukan hal-hal yang diduga melakukan tindakan melawan hukum,” terang Dr. Togar¬† Situmorang, SH, MH, MAP, CMED, CLA selaku kuasa hukum usai melaporkan kasus ini juga ke Mapolda Bali kepada wartawan di Denpasar, Kamis (08/09/2022)

Advokat Dr. Togar Situmorang menjelaskan, bahwa laporan kliennya telah diterima langsung oleh AIPDA I Ketut Sumerta dan diketahui oleh IPDA I Dewa Putu Artana dengan nomor STTL/534/IX/2022/SPKT/POLDA BALI, atas nama seorang Warga Negara Asing (WNA) berinisial LS asal Swiss dengan dugaan pidana Pasal 263 dan Pasal 372 serta juncto Tindak Pidana Pencucian Uang.

‘Harapan kita sesungguhnya apa yang dia punya, usahanya dia, ya dikembalikan haknya. Artinya di sini ada satu kerugian yang dialami yaitu berupa nominal. Diajak selesai baik-baik tidak, dikasi somasi tidak dijawab, diajak ngomong berunding tidak dijawab, otomatis kita sebagai warga negara ya kita lapor ke pihak kepolisian. Itu intinya,” tegasnya.

Sementara itu, Fannie Lauren saat diwawancarai wartawan menambahkan, dirinya berharap pihak Kepolisian Republik Indonesia dapat memproses laporannya, dimana dirinya mengaku telah mengalami kerugian mencapai Miliaran Rupiah dalam bentuk mata uang dolar.

“Tolong bantu warga negara kita sendiri. Jangan sampai orang yang bersangkutan malah sudah kabur sebelum proses itu terjadi. Ini yang sangat-sangat kami takuti. Artinya Hukum itu janganlah dikangkangi, hukum itu harus tegak setegak-tegaknya, pedang itu harus tajam, setajamnya. Jangan sampai pedang itu tajam ke bawah dan tumpul ke atas,” imbuh Fannie Lauren.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.