
KEMPALAN: Ada-ada saja para pegiat sosial melihat situasi yang terjadi lalu mencipta singkatan yang sudah baku dan dikenal luas, dipelesetkan dengan fenomena yang muncul belakangan.
Nasakom yang muncul di masa rezim Soekarno, yang ingin menyatukan Nasionalis, Agama dan komunis. Suatu hal mustahil ingin coba disatukan. Mana mungkin agama yang bertuhan dengan komunis yang tidak bertuhan bisa disatukan.
Sebenarnya ini menselisih Pancasila, khususnya pada sila pertama: Ketuhanan yang Maha Esa. Jelas ada kebersamaan Tuhan di sana, dan itu clear. Karenanya, itu jelas menutup pintu pada faham tidak bertuhan (komunis).
Soekarno kala itu ingin mempersatukan potensi anak bangsa, meski harus melanggar konstitusi negara. Maka muncul pertentangan menolak ide Nasakom, itu setidaknya dari Partai Masyumi dan juga Partai Sosialis Indonesia (PSI). Karenanya, dua partai itu dibubarkan rezim otoriter Soekarno, (1960).
Soal singkatan Nasakom pada masa Orde Lama itu sudah jelas. Tapi akhir-akhir ini muncul pelesetan singkatan dari Nasakom masa kini, menjadi “Nasionalis, Agamanusantara dan komisaris”. Pastinya singkatan Nasakom yang baru ini belum setenar Nasakom yang dicipta Soekarno dulu. Tapi setidaknya itulah fenomena akhir-akhir ini yang menyeruak di ruang publik.
Tentu semua boleh setuju dan tidak setuju dengan pelesetan singkatan Nasakom masa kini itu. Tulisan ini tidak sedang memperdebatkan hal itu. Hanya menunjukkan bahwa ada singkatan Nasakom yang dipelesetkan. Setidaknya itu fenomena yang muncul. Maka komunis seolah sudah dianggap tidak pas, dan mustahil bisa dipaksakan. Kom bukan lagi bagian dari singkatan komunis, tapi jadi komisaris.
Fenomena yang muncul tentang komisaris, ini memang semacam bagi-bagi jabatan di perusahaan plat merah (BUMN), dan itu atas balas jasa dari rezim, yang selama ini didukung tanpa reserve pada Pilpres 2014 dan 2019, dan yang kebijakannya dibela habis-habisan. Maka, mereka diganjar sebagai komisaris.

Sedang Agama yang ditambahkan nusantara yang menempel, itu fenomena yang muncul akhir-akhir ini yang mengecilkan agama mayoritas, Islam. Bahkan kecenderungan mengecilkan apa saja yang berbau Arab. Jika mungkin Islam dipisahkan dengan Arab, yang paling akhir muncul pernyataan, bahwa pengajaran bahasa Arab, disebut cenderung menjadikan siswa berperilaku radikal (teroris). Itu disampaikan Susaningtyas Neno Handayani, seorang pengamat intelijen.
Nusantara ditempelkan pada Agama, itu seakan merujuk pada agama (Islam). Padahal Agama dalam Nasakom ide Soekarno itu dimaksudkan untuk semua agama, bukan cuma Islam. Meski saat itu, tidak satu pun agama non Islam yang sudi bergabung, bagian dari perwakilan agamanya di sana (Nasakom).
Sedang Nasionalis tetap dimaknai yang sama dengan Nasakom versi aslinya. Diharap jadi perekat anak bangsa dalam bernegara. Nasionalisme itu gagasan mempersatukan dalam perbedaan, dan itu sikap saling hormat-menghormati yang harus terus ditumbuhkan.
Meski akhir-akhir ini muncul gerakan pendengung atau buzzer yang tampak terorganisir, kerap memunculkan pernyataan SARA dengan intensitas tinggi, yang punya potensi memacah belah anak bangsa. Berkali pelakunya dilaporkan pada kepolisian, tapi tidak atau setidaknya belum diproses, semacam kebal hukum saja.
Nasakom yang berubah singkatan itu, tentu tidak berubah dengan sendirinya, jika tidak ada fenomena yang muncul. Melihat fenomena yang ada, maka dengan sendirinya singkatan Nasakom dipaksa menjadi berubah.
Mengapa harus memakai nama Nasakom, yang lalu singkatannya dirubah makna segala. Mengapa tidak memilih nama lain saja, bukankah Nasakom itu sejarah kelam bangsa, yang dipaksakan rezim otoriter kala itu, apa hebatnya…
Bisa jadi itu cara mudah menggunakan singkatan Nasakom, yang memang populer, sehingga mudah untuk mengenalkan fenomena yang ada. Tampaknya itu yang terjadi… Wallahu a’lam. (*)
