Ngeri, Kutukan Tujuh Turunan Bayangi Sengketa Tanah Ungasan 

Prosesi ritual sakral di tanah sengketa Ungasan. (Ist)

Badung – Tidak dapat dibayangkan bagaimana kepedihan dan kesedihan ahli waris keluarga almarhum I Made Nureg dalam mempertahankan hak tanahnya merasa dizalimi ketika mencari keadilan hingga mengutuk pihak-pihak ikut terlibat tidak benar akan mendapatkan karma sampai tujuh turunan mengalami kesusahan. 

Begitu juga sebaliknya, mereka bersumpah sampai tujuh turunan bahwa tidak berbohong, berani mempertanggungjawabkan jika tidak benar memberi keterangan apa disampaikan. 

Dan lontaran kesaksian sekala niskala ini ditegaskan di hadapan para relawan Yayasan Keris Bali setelah prosesi upacara Pegembal, Bendu Piduka dan Megat Sot yang digelar pada tanah sengketa seluas 5,6 hektar (Ha) di Ungasan Kuta Selatan Badung Bali, Jumat 11 Maret 2022.

Tentunya momen langka ini menjadi catatan dalam Lembaga Pengadilan di Indonesia, bagaimana rakyat kecil sampai mengadu kepada ilahi dalam mencari keadilan dan pihak tidak benar dikutuk dan disumpahi dengan upacara disebut-sebut sakral di Bali.

“”Yang paling penting di upacara ini adalah siapapun pihak-pihak yang bermain dalam sengketa untuk memenuhi kepentingan pribadinya dan merugikan kami sebagai ahli waris, akan mendapatkan wastunya (kutukannya) dan mendapatkan karmanya,” kata perwakilan ahli waris Jro Kadek Hendiana merupakan anak dari I Made Suka kepada wartawan.

Dirinya mengatakan, upacara Bendu Guru Piduka yang digelar guna memohon ampunan dan bimbingan terhadap para leluhur terdahulunya dalam menjaga lahan tersebut dari energi negatif.

“Upacara ini digelar sebagai bentuk permintaan maaf kami kepada Ibu Pertiwi, Leluhur, dan Tuhan atas kesalahan yang kami alami. Tetapi ini juga digelar sebagai bentuk untuk memohon keadilan kepada Yang Maha Esa dalam perjuangan kami untuk menjaga tanah ini dari niat-niat yang tidak baik,” tegas Jero Kadek.

Sementara Relawan Masyarakat Bali yang tergabung dalam Yayasan Kesatria Keris Bali, I Ketut Putra Ismaya Jaya (Jero Bima) yang ikut hadir dalam upacara tersebut menegaskan, pihaknya akan siap mengawal keluarga ahli waris untuk bisa mendapatkan haknya terkait sengketa lahan terjadi.

Menurutnya, hal yang dilakukan pihak ahli waris dengan menggelar upacara ini merupakan hal yang tepat, dimana ketika ahli waris tidak mendapatkan keadilan atas apa yang perjuangkan, dan sekarang menggugat memohon keadilan secara niskala (gaib).

“Saya akan membela tanah Bali. Siapapun yang pernah datang ke tanah Bali, pasti mengerti begitu sakralnya tanah Bali, ini merupakan tanah Betara-Betari dan Lelangit yang ada untuk kebaikan Bali,” ungkap Jero Bima.

Sisi lain Kadek Mariata yang juga diundang dan didampingi tim kuasa hukum Made Suka hadir dalam gelaran upacara ketika wartawan meminta tanggapannya mengaku merinding menyaksikan upacara yang digelar.

Menurutnya, ini merupakan perjuangan dianggap tidak main-main sebagai upaya kutukan dari pihak keluarga ahli waris ketika mereka tidak mendapat keadilan atas apa yang telah terjadi di lahan sengketa.

“Saya melihat kondisi ini ngeri, ‘sing main-main ini bisa menciptakan malapetaka bagi orang-orang yang telah menzolimi ahli waris. Mudah-mudahan bapak, ibu, yang terkait dalam kasus ini bisa segera sadar dan disadarkan oleh Tuhan Yang Maha Esa,” tegas pria yang akrab disapa Kadek Garda.

Ia menekankan bahwa hal ini adalah bentuk pengayoman hukum disampaikan kepada Tuhan. Berharap penegak hukum dapat melihat fakta dan kebenaran hukum yang sebenarnya terjadi di lapangan. Bukan malah justru ikut menzolimi masyarakat kecil yang tidak mengetahui apa tentang upaya-upaya hukum dilakukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.