JAKARTA – Negara-negara anggota ASEAN mendesak Amerika Serikat dan Iran segera menghentikan konflik bersenjata yang memicu ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah. Seruan itu disampaikan setelah para pemimpin Asia Tenggara menyoroti dampak perang terhadap jalur perdagangan global, khususnya Selat Hormuz.
Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. menyampaikan sikap bersama ASEAN usai menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-48 di Cebu, Jumat (8/5).
Menurut Marcos, upaya diplomatik tidak akan menghasilkan kemajuan berarti selama pertempuran masih berlangsung. Ia menegaskan bahwa perdamaian merupakan syarat utama untuk menyelesaikan krisis yang terus memburuk.
“Ini adalah hal paling mendasar dalam setiap pembahasan mengenai perang di Timur Tengah. Kita tidak akan mencapai apa pun sampai tercipta perdamaian,” ujar Marcos, seperti dikutip dari Anadolu Agency.
KTT ASEAN, kata Marcos, memberi perhatian besar terhadap dampak konflik terhadap pasokan energi dan perdagangan maritim. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran dinilai menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi global.
“Intinya adalah: damai sekarang,” tegas Marcos.
Ia menambahkan, negara-negara ASEAN tengah menyiapkan langkah darurat untuk memastikan ketersediaan bahan bakar jika situasi terus berlarut. Ketidakpastian mengenai status gencatan senjata juga memperbesar kekhawatiran kawasan.
“Kita berada dalam situasi yang tidak pasti. Apakah gencatan senjata benar-benar berlaku? Apakah Israel dan Hizbullah termasuk di dalamnya? Ini situasi yang sangat sulit,” ujarnya.
Konflik memanas setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Iran pada 28 Februari. Pada hari yang sama, Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC membalas dengan menyerang Israel serta sejumlah aset militer di kawasan Teluk.
Sebagai respons, Iran menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Penutupan itu mendorong kenaikan harga energi di berbagai negara dan meningkatkan kekhawatiran akan gangguan rantai pasok global.
Melalui KTT ASEAN ke-48, para pemimpin Asia Tenggara menegaskan bahwa stabilitas kawasan dan ekonomi dunia hanya dapat terjaga jika konflik segera diakhiri melalui jalur damai.
