Langsung ke konten
Senin, 26 Oktober 2026
Kriminal

Usai Temuan Rekayasa Keuangan, Danantara Lakukan Reformasi Besar di PT Pos Indonesia

Sumber foto: ANTARA FOTO/Makna Zaezar (via detikcom)

JAKARTA — Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia bergerak cepat melakukan aksi “bersih-bersih” di tubuh PT Pos Indonesia (Persero). Langkah drastis ini diambil setelah Danantara menemukan tumpukan masalah keuangan dan tata kelola, termasuk adanya indikasi kuat dugaan rekayasa keuangan.

Aksi bersih-bersih ini terungkap pasca-proses due diligence dan evaluasi menyeluruh yang dilakukan oleh Danantara. Guna menindaklanjuti temuan tersebut, proses investigasi mendalam kini sedang berjalan.

Managing Director Stakeholders Management & Communications Danantara, Rohan Hafas, menegaskan pihaknya tidak akan memberikan ruang bagi praktik yang merusak tata kelola perusahaan. Seluruh persoalan lama yang membebani badan usaha milik negara tersebut dipastikan akan dibereskan satu per satu.

“Seluruh temuan akan ditindaklanjuti secara profesional, transparan, dan sesuai proses hukum,” ujar Rohan Hafas dalam keterangan tertulisnya, Jumat (3/7/2026).

Rohan menambahkan bahwa indikasi penyimpangan tersebut saat ini tengah masuk dalam mekanisme audit. Pembenahan total ini bertujuan agar PT Pos Indonesia kembali menjadi perusahaan yang sehat, profesional, akuntabel, dan berintegritas.

Di tengah bergulirnya isu miring tersebut, kejutan lain datang dari internal pembuat kebijakan perusahaan. Direktur Utama PT Pos Indonesia, Daud Joseph, secara resmi mengundurkan diri dari jabatannya pada Kamis (2/7/2026).

Surat pengunduran diri Daud sejatinya telah diterima oleh Danantara sejak Senin (29/6/2026). Padahal, Daud awalnya mengemban misi besar untuk mereformasi total kondisi keuangan, operasional, dan organisasi perusahaan.

Menurut Rohan, Daud Joseph merasa kompleksitas masalah di tubuh PT Pos memerlukan keahlian yang lebih spesifik. Berdasarkan hasil asesmen mandiri, Daud menilai perusahaan membutuhkan figur pemimpin baru untuk memimpin fase transformasi berikutnya.

“Menurut beliau, kompleksitas persoalan yang dihadapi serta agenda restrukturisasi ke depan membutuhkan expertise yang lebih spesifik,” pungkas Rohan menjelaskan alasan pengunduran diri sang dirut.