Tokoh Indonesia Bicara Soal Bijak Bermedia Sosial di Era Pandemi Begini Ulasannya

  • Whatsapp

Bakti Kominfo melaksanakan Seminar Merajut Nusantara bertemakan “Bijak Bermedia Sosial di Era Digital” yang diisi Ir. Alimin Abdullah selaku Anggota Komisi I DPR-RI, Prof. Dr. Widodo Muktiyo selaku Pakar Kehumasan, Ahmad Syarif selaku Motivator dan Trainer, yang mana dalam seminar live streaming tersebut Ir. Alimin Abdullah menyampaikan bahwa bersyukur kita masih dalam suasana yang begitu tegang di Negara kita sekarang ini masih dalam keadaan sehat.

Karena saya yakin dengan modal sehat itulah semua kita bisa hadir di acara ini dan kita syukuri dalam suasana PPKM itu kita juga masih mengadakan suatu acara yang insya Allah punya manfaat dan positif.

Pertama kali menyampaikan rasa syukur yang luar biasa sekarang ini teman-teman yang sudah sembuh, yang belum sembuh kita doakan cepat sembuh dan yang sedang menghadapi di rumah sakit sulit mengatasi semua persoalannya kita berharap Negara kita mampu mengatasi, melewati covid-19 ini, karena kita tidak akan mengalami sesuatu yang lebih bagus lagi kalau tidak segera mengatasi masalah kita.

Sore hari ini kita sama-sama akan mengadakan suatu acara yang menurut kami ini atas kerjasama antara Komisi 1 DPR-RI, Kominfo dan Bakti, karena suasana sekarang ini justru lebih banyak ada di rumah, kalau di rumah maka hubungan komunikasi kita umumnya akan menggunakan media sosial yang kita gunakan melalui teknologi informasi dan komunikasi, dengan itu ada beberapa hal yang menjadi catatan, karena kenyataannya sekarang banyak juga yang bukan sesuatu yang negatif, yang merugikan.

Sebagai pengguna digital ini, jadi mudah-mudahan yang diharapkan dengan menggunakan ini secara bijak, agar kita bisa memanfaatkannya secara positif dan juga mengambil manfaat sebesar-besarnya dan menghindari kemungkinan-kemungkinan yang timbul akibat kekurang bijakan kita memanfaatkan teknologi yang baru ini, ini sesuatu yang baru dan kita senang atau tidak senang harus segera terlibat menggunakan media sosial ini karena mulai dari anak SD tidak perduli dia ada dimana, di plosok sekalipun harus ikut, kalau tidak dia tidak bisa mengikuti pendidikan dan kemajuan teknologi apalagi masalah informasi.

Dalam kesempatan yang sama Prof. Dr. Widodo Muktiyo selaku Pakar Kehumasan menyampaikan bahwa mari kita bersatu melawan covid-19 karena sekarang ini tidak hanya 3M bahkan sekarang 5M ditambah kita harus tidak menjalankan bepergian, berkerumun di samping kita harus memakai masker, bahkan kalau ditempat yang menular maskernya di doble, kita harus cuci tangan dengan sesering mungkin dan juga selalu menjaga jarak dalam berkomunikasi.

Nah inilah yang saya kira harus sekarang kita tambah, jangan lupa kita berolahraga untuk menjaga perform kita, imun kita, stamina kita, istirahat yang cukup, tidur yang cukup, makan yang bergizi dan juga mari kita jangan mudah panik menghadapi informasi-informasi yang tidak benar, itu menjadi kunci kita karena sekarang ini betul-betul pemerintah sungguh-sungguh menghadapi pandemi covid-19 ini dan kebijakan PPKM yang sekarang di tambah istilah PPKM darurat itu adalah satu keputusan berdasarkan masukan dari berbagai orang yang ahli dibidangnya.

Berbagai masukan dari para pembantu Presiden, para Menteri agar supaya tanggal 3 hingga 20 Juli 2021 kita betul-betul meningkatkan kewaspadaan menghadapi pandemi covid-19 ini. Dan ini menjadi salah satu strategi yang harus kita sepakati bersama, tidak bisa selesai kalau itu hanya Pemerintah, membutuhkan semua pihak, makanya kalau di dalam komunikasi publik PPKM itu harus melibatkan pentahelix.

Harus melibatkan unsur dari para akademisi, parabisnisman, Pemerintah dan DPR, serta lembaga-lembaga terkait dan juga terkait dengan tokoh masyarakat, komunitas, termasuk juga kita berkolaborasi dengan media yang ada di Indonesia ini, jadi kita mari sama-sama mendengungkan, mengorkestrasikan, bahwa PPKM darurat itu adalah sesuatu yang harus kita taati, penuh kedisiplinan, agar supaya covid-19 yang lewat antar manusia ini betul-betul terputus dan akhirnya kita bisa segera berkurang dan akhirnya hilang di muka bumi Indonesia dan dunia ini.

Ini yang menjadi semangat kita, mari kita berprasangka baik terus menerus terhadap apa yang sudah kita kerjakan, jangan kemudian energi kita dihabiskan untuk hal-hal yang percuma, saya kira menjadi tantangan kita semuanya di bawah pimpinan Bapak Presiden sebagai lokomotif untuk melawan pandemi covid-19.

Yang menjadi catatan penting kita juga mengeluarkan alokasi pendanaan luar biasa banyaknya, baik dari perlindungan sosial, baik dari kesehatan, baik dari insentif untuk usaha termasuk UMKM yang kita harus kondisikan agar supaya tetap hidup dan juga program-program prioritas lainnya.

Ini adalah kepedulian kita, ini baru sebagian kecil yang lain masih banyak, saya ingin tunjukkan bahwa APBN kita, anggaran kita untuk menangani PPKM darurat adalah nyata dan itu harus kita segera cairkan, bahkan hari-hari ini Bapak Presiden sudah kemana-mana untuk segera melaksanakan program-program untuk menangani kondisi sosial masyarakat, kondisi ekonomi masyarakat, kesehatan masyarakat di dalam pandemi covid ini, yang tidak kalah pentingnya adalah kemudian ada sesuatu yang tidak kelihatan.

Bahwa informasi itu adalah makanan sehingga jangan sampai informasi itu diambil yang bukan makanan tapi sebagai racun dan kita buang yang sebagai racun tadi yang mengganggu jiwa kita, harus kita ambil menjadi makanan yang menyehatkan kita.

Mari kita sepakat bahwa kita harus menelan yang sehat, karena ada satu pandangan dari (Jakob Oetama, 2003) bahwa informasi yang dipersepsikan sebagai sumber pengetahuan mulai dikhawatirkan sebagai sumber kecemasan. Artinya bisa mengganggu pikiran kita dan akhirnya mempengaruhi sikap kita.

Mempengaruhi perilaku itu tidak menyehatkan, karena memang ini masa dimana informasi itu kadang-kadang antara madu dan racun, antara makanan dan racun ini sering kali terkacaukan inilah yang menjadi tantangan kita. Informasi layaknya makanan (Simone Adolphine Weil, Perancis) yang menyampaikan “makanan sehat akan menyehatkan badan kita dan informasi yang sehat akan menyehatkan fikiran kita”.

Jadi jejak digital itu juga menjadi hal yang penting, di samping kita mengunyah kemudian kita kalau menshare, kita menempakkan digital kita dan itu berbahaya kalau kita keliru bisa berimplikasi yang tidak baik bagi diri kita, bagi kesehatan jiwa kita dan juga bagi secara harmoni masyarakat, oleh sebab itulah di tengah pandemi covid ini mari kita memilah.

Memilih untuk informasi yang menyehatkan, kemudian juga jangan mudahnya men-share sebelum betul-betul layak kita ingin share, kalau tidak mending kita perhatikan, kita jadikan informasi yang itu akan menyehatkan kita. Sekarang kita bisa lihat fenomena yang sekarang ini berkembang terus, data ini pasti akan berubah terus, kita ini sudah 64% dari total penduduk kita itu pengguna internet bahkan aktif bersosial media ini yang menjadi tantangan kita, angkanya tiga setengah jam perhari itu data yang dulu sekarang saya kira sudah lebih.

Jadi di tengah pandemi yang kita harus di rumah maka kemampuan-kemampuan kita untuk bisa melakukan konsumsi media sosial itu menjadi total dan ini yang menjadi tantangan kita, termasuk juga dari sisi Pemerintah sudah menangani jutaan situs-situs yang harus kita takedown, baik pornografi, perjudian, penipuan, termasuk radikalisme, ini saya kira harus kita betul-betul menjadi hal-hal yang harus kita perhatikan dan itu tanggung jawab kita semuanya, disaring apapun kalau individu tidak mau menyaring ya nanti yang rugi individu, makanya kita sekarang ingin memberdayakan literasi digital.

komunikasi oksigen masyarakat yaitu komunikasi yang diarahkan pada upaya-upaya pemerintah dalam melindungi segenap tumpah darah dan bangsa Indonesia, komunikasi yang diarahkan kepada upaya-upaya pemerintah dalam memajukan kesejahteraan umum, komunikasi yang diarahkan pada upaya-upaya pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan komunikasi yang diarahkan pada upaya-upaya pemerintah dalam usaha ikut serta dalam menciptakan perdamaian dunia berdasarkan keadilan dan perdamaian abadi, dalam bingkai NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, keberagaman, dan persatuan.

Teknologi itu tidak ada etika, teknologi itu hakekatnya alat yang kita gunakan, yang memberikan nilai kita sendiri, jadi jangan sampai kita nanti justru malah di kuasai teknologi, teknologi harus kita gunakan sebagai tools untuk mencerdaskan kita, ini yang saya kira penting dan pemahaman itu harus bukan sekedar perubahan perilaku tetapi perubahan mind set, bagaimanapun menghadapai perubahan teknologi ini harus perubahan mind set “Steven Covey menyebut perubahan mind set adalah perubahan besar, sedangkan perubahan perilaku adalah perubahan kecil, tetapi perilaku itu penting dan perilaku itu harus dipimpin oleh mind set kita.

Sekarang ini mari kita memberikan inspirasi, memberikan motivasi dan akhirnya betul-betul memberikan perubahan mendasar, jadi cirinya kita beradab itu kan kalau perubahan mind set kita.

Misalkan Negara industri cara berpikir kita produktif, inovatif, kreatif, edukatif, ini menjadi tantangan apakah kita sudah seperti itu, inilah gunanya kita literasi, karena teknologi yang tidak punya etika tadi kalau kita gunakan bisa untuk meningkatkan belanja online, belajar online, bertani kita bahkan online, bahkan saling membantu secara online, termasuk juga untuk transportasi, untuk kuliner dan juga untuk kesehatan, termasuk juga untuk nonton macam-macam hiburan kita.

Jadi inilah bukti bahwa kalau kita ini bisa bersama-sama produk teknologi yang sekarang ini sedang dikembangkan oleh Pemerintah bersama-sama tokoh-tokoh masyarakat yang punya ilmu, itu bisa menggunakan lebih hemat, lebih cerdas, lebih produktif.

Tantangan moral masyarakat yaitu kebebasan masyarakat tumbuh cepat dan tidak terbatas, kerumitan era online dan medsos semakin tinggi, privatisasi terganggu dan keraguan kebenaran memuncak, distorsi relasi mayoritas dengan minoritas rawan konflik dalam keberagaman yang tinggi, demoralisasi lahir seiring dengan kebebasan.

Ahmad Syarif selaku Motivator dan Trainer menyampaikan bahwa melihat fenomena dalam media sosial itu sekarang terdapat hoax atau benar, masih bimbang, maka dari itu harus di cek dulu kebenarannya, bermunculan selebriti ala media sosial, sebagai tempat saranan menuangkan ide atau motivasi, sebagai alat menemukan jodoh, ada juga friend tapi selingkuh, sebagai media bisnis organik atau bisnis, self branding dan banyak juga content pornografi dan aksi.

Dalam etika di media sosial yaitu gunakan sopan santun, hindari SARA, jauhi konten pornografi, konfirmasi setiap berita yang hadir, hargai orang lain, batasi informasi pribadi, kendalikan emosi, perkaya frame dalam membaca pesan, sebaiknya berniaga dengan media sosial.

Dan ingat hindari phubbing merupakan sikap yang mengabaikan seseorang yang sedang berinteraksi dengan nya disebabkan perhatiannya lebih tertuju kepada ponsel, jaga pikiran perbuatan dan perkataan lahir dari sebuah keputusan pikiran yang ada dalam diri kita, pikiran baik akan melahirkan perkataan dan prilaku yang baik dan begitu pula sebaliknya.

Pos terkait

loading...