Dugaan Korupsi LPD Intaran, Kejari Denpasar Periksa Belasan Saksi

Kasi Intel Kejari Denpasar, Putu Eka Suyantha. (Ist)
Kasi Intel Kejari Denpasar, Putu Eka Suyantha. (Ist)

Denpasar – Mencuatnya dugaan kasus korupsi Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Desa Adat Intaran Sanur memasuki babak baru. Pasalnya, kini pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Denpasar mengaku sudah dalam upaya penyelidikan.

Melalui Kasi Intel Kejari Denpasar, Putu Eka Suyantha menjelaskan, pihaknya terus bergerak mengusut kasus ini, terlebih dalam kasus tersebut diduga melibatkan Oknum Perangkat Desa yang disampaikan kepada wartawan di Denpasar pada Senin (22/08/2022)

Bahkan ia mengabarkan, belasan saksi sudah dipanggil. Baik itu korban maupun pihak yang bertangungjawab secara bergilir guna diminta keterangan.

“Iya sudah di lid (Penyelidikan, red). Sudah kita panggil saksi – saksi dan korban, Kurang lebih ada belasan orang. Kalau lidik sudah baru kita audit,” ungkap Putu Eka.

Lebih lanjut dikatakan Putu Eka setelah nanti proses penyelidikan baru bisa melakukan audit untuk menentukan nilai kerugian negara.

Terkait hal ini ia menyampaikan, baru sebatas dugaan akan adanya kemungkinan kerugian keuangan negara yang disinyalir ditimbulkan dari kesalahan unsur kesengajaan dalam pengelolaan sistem keuangan LPD Intaran.

Untuk diketahui dari penelusuran wartawan, sejumlah nasabah yang hendak melakukan penarikan tampak kecewa saat keluar dari Kantor LPD Desa Adat Intaran pada Senin (06/06/2022) lalu.

Seperti pengakuan salah seorang penabung wanita yang meminta tidak disebutkan namanya. Dia bertujuan menarik bunga tabungan saja Rp 290 ribu. Tetapi petugas LPD memberitahu hal itu belum bisa dilakukan.

Untuk mencairkan bunga dituliskan dalam berita, wanita tersebut diminta untuk mendaftar dan antre. Ini seperti de javu, karena ia diberitahu perihal yang sama pada bulan sebelumnya. Meski bulan sebelumnya masih bisa dicairkan, dirinya harus menunggu beberapa minggu dan mengubungi petugas berulang kali.

“Bulan sebelumnya memang sudah seperti ini, ternyata bulan ini, untuk menarik bunga harus daftar lagi,” tandasnya.

Begitu juga penuturan dari seorang pria yang hendak menarik semua uangnya dijelaskan lagi dalam berita. Tanpa membeberkan jumlah tabungan yang dimiliki, dengan raut wajah masam pria itu mengatakan tidak bisa menarik. Bahkan menurutnya, keadaan semacam ini terjadi karena LPD Intaran sedang bermasalah alias oleng.

“Saya dengar dan diberitahukan, sekarang di LPD lebih baik tarik-tarik saja uangnya atau bunganya. Jangan nabung. Dimana-mana infonya begitu, jangan naruh uang di sana sekarang,” tutur pria yang juga enggan disebutkan namanya.

Sementara itu, menurut seorang wanita pedagang di Pasar Desa Intaran berinisial S, Pasar tersebut dikelola oleh LPD Intaran dan semua penjual di sana adalah nasabah.

“Semua pedangan dipinjamkan Rp 60 juta untuk berjualan dan kami cicil. Sementara kami menabung atau punya deposito, kalau saya tidak punya tabungan tapi punya deposito yang sudah dekat jatuh tempo,” kata dia di sela-sela berjualan, Jumat (10/06/2022).

Namun para pedagang di Pasar itu sama-sama tidak bisa menarik tabungan atau deposito. Karena di LPD disebut tidak ada kas. Dirinya tidak mengetahui masalah apa yang terjadi, apalagi tidak ada penjelasan baik dari pihak LPD maupun Desa Adat

Sementara sebumnya, pihak LPD Adat Intaran melalui Ketuanya, Wayan Mudana sempat membantah adanya dugaan tersebut, dengan mengatakan sampai saat ini kondisi LPD Intaran baik-baik saja.

“Memang penarikan tabungan atau deposito nasabah dibatasi. Tapi bukan berarti kondisi LPD Intaran sedang kolaps. Saat ini LPD Intaran masih memiliki aset senilai Rp 160 miliar,” ujarnya, seperti yang dikutip dari Baliexpress (19/6/2022) lalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.