Medan – Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono, mendorong percepatan normalisasi alur Pelabuhan Belawan di Medan, Sumatera Utara. Hal ini disampaikannya saat melakukan kunjungan kerja ke pelabuhan tersebut pada Senin (21/7), menyikapi kondisi pendangkalan yang dinilai menghambat optimalisasi kegiatan pelayaran dan bongkar muat.
“Pendangkalan alur masuk Pelabuhan Belawan harus segera diatasi. Ini penting agar kapal-kapal besar internasional bisa bersandar di sini,” ujar Bambang.
Menurutnya, kondisi alur saat ini membatasi potensi Belawan sebagai pelabuhan bertaraf internasional. Akibat keterbatasan kedalaman, hanya kapal ukuran sedang hingga kecil yang dapat melayani rute ke pelabuhan tersebut. Imbasnya, volume bongkar muat di Pelabuhan Belawan masih tertahan di angka 1,5 juta TEUs (twenty foot equivalent units) sepanjang tahun 2024.
“Bandingkan dengan pelabuhan di negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand yang sudah menangani 10 hingga 30 juta TEUs per tahun. Kita tertinggal jauh,” ungkapnya.
Bambang juga menyoroti pentingnya posisi strategis Pelabuhan Belawan yang berada di jalur pelayaran padat dunia. “Sebanyak 70 persen kapal dunia melintasi Selat Malaka. Ini peluang besar jika infrastruktur pelabuhan kita siap menerima kapal besar dari Asia Timur menuju Amerika dan Eropa,” lanjutnya.
Dari sisi infrastruktur darat, Bambang menilai kapasitas crane dan area penumpukan kontainer di Belawan sudah memadai. Dengan daya tampung mencapai 4 juta TEUs, potensi pengembangan logistik masih terbuka lebar.
“Namun kalau tidak dibarengi dengan normalisasi alur pelayaran, kapasitas besar itu tidak akan maksimal digunakan. Karena kapal besar enggan masuk kalau jalurnya dangkal,” tegas politisi yang membidangi sektor industri, UMKM, pariwisata, dan logistik tersebut.
Sementara itu, Pelaksana Harian Executive General Manager Pelindo 1 Belawan, Mahadi Widigdo, menjelaskan bahwa proses normalisasi alur masih menunggu kelengkapan dokumen, termasuk persetujuan dari Indonesia National Shipowners Association (INSA) Medan terkait skema tarif kapal untuk pembiayaan pengerukan.
“Kami masih menunggu persetujuan resmi dari INSA. Setelah itu dokumen akan dikirimkan sebagai dasar penugasan pengerukan,” jelas Mahadi.
Ia menambahkan, saat ini kedalaman alur berada pada kisaran 7,9–8 meter LWS (low water spring) dan mencapai 9–10 meter saat pasang. Idealnya, kedalaman ditingkatkan hingga 11–12 meter dengan panjang alur 26 kilometer dan lebar 100–150 meter agar terkoneksi langsung ke laut lepas.
Menurut Mahadi, pendangkalan terjadi akibat sedimentasi tahunan yang mencapai 70–80 sentimeter. Kondisi ini berdampak signifikan terhadap akses kapal masuk dan efektivitas operasional pelabuhan.
“Dengan dukungan Pak Bambang Haryo, kami berharap percepatan pengerukan bisa segera terealisasi,” pungkasnya.
