Cilegon – Anggota Komisi VII DPR-RI Bambang Haryo Soekartono (BHS) mengapresiasi kelancaraan arus mudik dan balik Lebaran 2026 di Pelabuhan Merak, Banten, saat melakukan kunjungan kerja, Selasa (31/3).
Dalam kunjungan itu, Pemilik sapaan akrab BHS ini, menyoroti sejumlah catatan penting terkait persoalan di lintasan penyeberangan strategis Jawa–Sumatera.
“Saat masyarakat melakukan silaturahmi maupun pariwisata, masyarakat membutuhkan transportasi penyeberangan menuju ke Sumatera, saya melihat cukup lancar dari Jawa ini, dan saya ingin melihat dari Bakauheni,” ujar BHS.
Namun demikian, BHS mengungkapkan masih adanya persoalan mendasar terkait antrean panjang kendaraan di pelabuhan. Ia menyebut, salah satu penyebab utama adalah keterbatasan jumlah dermaga, yang membuat kapal tidak dapat beroperasi secara optimal.
“Tadi saya sudah banyak diskusi, kenapa terjadi antrian yang begitu panjang, disaat itu tidak semua kapal bisa beroperasi, dari 72 kapal, secara reguler hanya bisa dioperasikan 28 kapal,” katanya.
Menurut Kapoksi Fraksi Gerindra Komisi VII DPR-RI ini, keterbatasan tersebut dipicu oleh minimnya jumlah dermaga yang tersedia. Saat ini, Pelabuhan Merak hanya memiliki tujuh dermaga aktif.
“Karena kita kurang dermaganya. Saat ini, hanya ada 7 dermaga, yang dimana setiap dermaga beroperasi 4 kapal, berarti ada lebih dari 60% tidak bisa dioperasikan disaat situasi seperti ini” jelas BHS.
Ia menegaskan perlunya evaluasi menyeluruh oleh operator penyeberangan dan regulator terkait. BHS yang juga Ketua Dewan Pembina Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) ini, meminta ASDP Indonesia Ferry bersama Ditjen Perhubungan Darat dan Ditjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan segera mengambil langkah konkret.
“Ini butuh satu evaluasi daripada ASDP, perusahaan pelayaran, terutama regulator Ditjen darat dan Ditjen laut Kemenhub untuk segera mengantisipasi kesulitan perusahaan pelayaran ini, untuk bisa beroperasi, kalau misalnya ada penambahan dermaga,” tegasnya.
Alumni Teknik Perkapalan ITS Surabaya ini menjelaskan bahwa penambahan dermaga akan berdampak signifikan terhadap kapasitas operasional kapal.
“Satu pasang dermaga bisa mengantisipasi 4 unit kapal, kalau dua pasang dermaga maka akan jadi 8 unit kapal. Tentu ini bisa menambah kapasitas dari 28 kapal sekitar 35%,” ungkap BHS.
Lebih lanjut, ia memproyeksikan peningkatan trafik penyeberangan akan terus terjadi setiap tahun, seiring pertumbuhan pengguna jasa penyeberangan.
“Bila ASDP setiap tahun mengalami kenaikan sekitar antara 8-12% rata-rata, maka sampai tahun ketiga atau tahun keempat sudah bisa mengantisipasi bila terjadi lonjakan,” ujarnya.
Selain itu, BHS juga mengingatkan potensi lonjakan penumpang akibat tersambungnya jaringan jalan tol yang akan mempercepat mobilitas masyarakat.
“Tolong diingat, perlu di antisipasi juga terjadi percepatan akibat dari jalan tol nanti kalau sudah tersambung, itu tentu akan meningkatkan jumlah daripada masyarakat,” katanya.
Disamping itu, BHS juga menekankan bahwa angkutan logistik tidak boleh dikorbankan dalam pengaturan arus penyeberangan.
“Angkutan logistik, tidak boleh dikorbankan, karena yang sekarang ini, sebagaimana informasi kendaraan logistik disimpan di rest area, pinggir jalan, hingga di kantong parkir dermaga. Kalau sampai logistik dihambat, perdagangan dan industri ikut terhambat,” tegasnya.
Ia memperingatkan dampak lanjutan jika distribusi logistik terganggu, mulai dari inflasi hingga penurunan daya beli masyarakat.
“Kalau Industri terhambat yang dirugikan adalah masyarakat terjadi inflasi, tentu juga akan memperlambat pertumbuhan ekonomi kemampuan daya beli masyarakat menurun,” lanjutnya.
Di akhir pernyataannya, BHS mendesak agar evaluasi segera direalisasikan melalui pembangunan dermaga baru yang lebih aman dan layak.
Lebih lanjut BHS mengharapkan evaluasi ini cepat untuk direalisasikan dengan penambahan dermaga di tahun depan sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi, harus sudah ada penambahan dermaga yang sekarang ini menggunakan dermaga darurat yaitu dermaga laut yang dia sandarnya samping, yang mereka menunggunya kumpul dengan batu bara, biji besi dan ini sangat berbahaya.
“Ini darurat yang tidak bisa di toleransi secara terus menurus. Maka, sudah seharusnya pembangunan dermaga reguler yang aman, nyaman dan juga selamat harus segera dilakukan” pungkas BHS.
