Langsung ke konten
Senin, 26 Oktober 2026
Ekonomi & Bisnis

Rupiah Stagnan di Rp17.992 per Dolar AS, Suku Bunga BI Bakal Naik atau Tetap?

Sumber Foto : (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka stagnan di level Rp17.992 per dolar AS pada perdagangan Rabu (21/10/2026) pagi. Posisi ini tidak berubah dari penutupan perdagangan sebelumnya karena pelaku pasar memilih bersikap hati-hati menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI).

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, memperkirakan pergerakan mata uang Garuda berpotensi melemah sepanjang hari ini. Sentimen domestik menjadi pendorong utama seiring sikap antisipatif investor terhadap arah kebijakan suku bunga acuan BI yang dijadwalkan rilis siang nanti.

“Rupiah hari ini diperkirakan melemah dipengaruhi oleh domestik antisipasi hasil keputusan RDG BI siang nanti,” ujar Rully dalam keterangannya sebagaimana dilansir dari Antara, Rabu (21/10/2026).

Rully mengungkapkan bahwa proyeksi pelaku pasar saat ini terbelah menjadi dua pandangan. Sebagian memperkirakan BI tetap mempertahankan suku bunga di level 5,75 persen demi menjaga daya beli masyarakat, sementara sebagian lainnya mengantisipasi kenaikan 25 basis poin menjadi 6 persen.

Pertimbangan kenaikan suku bunga acuan tersebut muncul akibat tekanan eksternal dari kebijakan moneter Bank Sentral AS. “Jika BI menaikkan suku bunganya, mungkin mempertimbangkan antisipasi bila The Fed tanggal 28 Oktober nanti jika jadi menaikkan bunga 25 bps menjadi 4,25 persen,” jelas Rully.

Selain sentimen suku bunga, dinamika pasar global juga membayangi pergerakan rupiah. Tingginya harga minyak dunia memicu ekspektasi inflasi global yang berujung pada lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS.

Meski sempat terkoreksi, harga minyak mentah jenis Brent mengalami penurunan sekitar 3 persen ke level 106,18 dolar AS per barel pada perdagangan Selasa (20/10/2026). Berdasarkan data Anadolu, harga tersebut bergerak turun dari level tertinggi harian yang sempat mendekati 112 dolar AS per barel.

Namun demikian, harga Brent saat ini masih terhitung 6,8 persen lebih tinggi dibandingkan bulan lalu dan melambung hampir 75 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya. Kondisi ini memaksa pelaku pasar tetap mewaspadai risiko ketidakpastian arus modal asing pada pasar keuangan negara berkembang.

Dengan memperhitungkan seluruh faktor risiko tersebut, nilai tukar rupiah diproyeksikan bakal bergerak pada rentang Rp17.950 hingga Rp18.100 per dolar AS sepanjang sesi perdagangan hari ini.