Oleh: Robertus Bria Seran, S.Pt
Di Malaka Barat, sebelum wilayah itu mekar menjadi Weliman dan Wewiku, ada satu nama yang hampir semua orang kenal, PIT SERAN.
Sebagian orang memanggilnya “danger”. Bukan tanpa alasan. Ia disegani, berani, kadang terlihat nakal. Tapi di balik itu semua, ada hati yang tulus… dan jiwa yang sangat penyayang.
Saya mengenalnya bukan hanya sebagai sosok yang dikenal banyak orang, tapi sebagai saudara, sahabat, dan teman seperjalanan hidup.
Kami pernah duduk di bangku yang sama, SMP Negeri Besikama. Tinggal satu asrama di Relino Kaleik, tahun 1987. Masa-masa sederhana, penuh tawa, penuh cerita. Lalu waktu memisahkan kami.
Tahun 1990, jalan kami berbeda. Saya ke Atambua, melanjutkan sekolah di SMA Katolik Suria Atambua. Hidup berjalan, membawa kami ke arah masing-masing.
Hingga tahun 1997, takdir mempertemukan kami kembali di Kupang. Saat itu, PIT SERAN bekerja di salah satu tempat hiburan. Kami hanya saling menyapa, tanpa tahu bahwa pertemuan itu hanyalah jeda sebelum cerita besar dimulai.
Saya pulang kampung. Ke Raiksouk, Desa Leunklot. Dan lagi-lagi, kami dipertemukan. Seperti ada benang tak terlihat yang terus mengikat langkah kami.
Tahun 2001, di sebuah pesta kenduri di Umalor, Desa Lakulo. Pertemuan itu berubah menjadi titik awal perjalanan baru.
Saya mengajaknya menemani mengantar lamaran kerja. Dua pilihan di tangan, menjadi guru di SMK Kobalima atau menjadi Reporter di Media Mingguan Solusi.
Di persimpangan itu, saya bertanya,
“OM PIT, kita pilih jalan mana?”
Ia tidak menjawab cepat. Tapi dari diskusi singkat itu, ada keyakinan yang lahir. Dan akhirnya, kami memilih jalan yang tidak mudah, jalan kebenaran.
Kami ke Atambua. Mengambil surat tugas. Dan sejak hari itu, kami bukan lagi sekadar teman lama… kami menjadi Wartawan.
Liputan pertama kami bukan cerita ringan. Kasus TNI gadungan yang meresahkan warga Betun. Kami datang, menggali, menulis. Dan di situlah saya melihat sisi lain PIT SERAN.
Ia bukan sekadar “danger” dalam arti yang dulu dikenal orang.
Ia menjadi berani karena kebenaran. Ia melangkah tanpa takut, masuk ke situasi yang tak semua orang berani hadapi.
Baru satu minggu kami menjadi reporter… Teror mulai datang. Ancaman berdatangan. Tapi Pit Seran tidak mundur. Karena baginya, kebenaran tidak boleh berhenti hanya karena takut.
Di balik sosok yang dulu dianggap nakal, ternyata ada jiwa yang siap menjadi pena bagi suara yang tak terdengar. Ia bukan hanya dikenal karena keberaniannya…, Tapi karena ketulusannya memperjuangkan apa yang benar.
Ancaman itu nyata… dan perjalanan kami sebagai wartawan baru saja dimulai. Di balik setiap langkah, ada risiko. Di balik setiap tulisan, ada keberanian yang harus dibayar.
Dan PIT SERAN… tidak pernah mundur. Kisah ini belum selesai.
(Bersambung…
