Oleh: Robertus Bria Seran, S.Pt

Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Angin berhembus pelan, tapi suasana hati kami tidak pernah benar-benar tenang sejak liputan pertama itu terbit.

Ancaman mulai datang… bukan sekadar kata-kata kosong.
Ada pesan-pesan yang membuat kami berpikir ulang, ada tatapan-tatapan yang berbeda ketika kami melewati jalan yang sama.
Seolah-olah, langkah kami sedang diawasi.

Sebagai wartawan baru, jujur saja… saya sempat ragu.
Apakah ini jalan yang tepat?
Apakah semua ini sebanding dengan risiko yang kami hadapi?

Tapi PIT SERAN tidak seperti itu.

Dengan wajah tenang, ia berkata pelan,
“Kalau kita takut, siapa lagi yang berani tulis kebenaran?”

Kalimat itu sederhana… tapi menghantam dalam.

Sejak saat itu, saya mulai melihatnya bukan hanya sebagai teman lama.
Tapi sebagai sosok yang benar-benar siap berdiri di garis depan.

Setiap kali kami turun liputan, PIT SERAN selalu lebih dulu melangkah.
Ia mendekati narasumber yang sulit, masuk ke situasi yang penuh tekanan, dan tidak pernah ragu menggali fakta lebih dalam.

Keberaniannya bukan nekat…
Tapi lahir dari keyakinan.

Ia tahu risikonya.
Ia sadar ancaman itu nyata.
Namun ia juga tahu, kebenaran tidak akan muncul jika semua orang memilih diam.

Hari demi hari, kami mulai dikenal.
Tulisan-tulisan kami dibaca.
Kasus demi kasus mulai terungkap.

Tapi di balik itu… tekanan juga semakin besar.

Ada malam-malam di mana kami harus memilih diam untuk sementara.
Ada momen di mana kami harus berhati-hati dengan setiap langkah.
Namun PIT SERAN tetap sama.

Tidak berubah.
Tidak mundur.
Tidak pernah kehilangan arah.

Bagi banyak orang, ia mungkin hanya dikenal sebagai “danger”.
Tapi bagi saya…
Ia adalah orang yang mengajarkan bahwa keberanian sejati bukan tentang melawan tanpa takut,
melainkan tetap berjalan… meski rasa takut itu ada.

Dan di situlah saya sadar, PIT SERAN tidak hanya menjalani profesi sebagai wartawan.

Ia hidup di dalamnya.

Namun, perjalanan ini belum mencapai puncaknya…
Masih ada peristiwa yang lebih besar, lebih menegangkan, dan lebih menguji keberanian kami.

Dan di bagian itulah…
nama PIT SERAN benar-benar teruji…..