Jakarta – Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono menyoroti minimnya anggaran sektor industri kimia, farmasi, dan tekstil dalam rapat kerja bersama Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT), Senin (30/3).
Pemilik sapaan akrab BHS ini menilai keterbatasan anggaran berpotensi berdampak pada tingginya harga obat-obatan di dalam negeri.
Kapoksi Fraksi Gerindra Komisi VII DPR-RI ini menegaskan bahwa industri farmasi merupakan sektor strategis karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat. Namun, menurutnya, dukungan anggaran pemerintah terhadap sektor ini masih belum memadai.
“Apakah karena ini, harga obat-obatan di nasional kita, seperti yang disampaikan Menteri Kesehatan, bisa lima kali lebih mahal dibandingkan Malaysia?” ujar BHS dalam forum.
Ia menekankan bahwa sektor industri kimia dan farmasi tidak hanya menyangkut hajat hidup orang banyak, tetapi juga memiliki karakter padat karya, padat teknologi, dan padat modal yang memerlukan perlindungan serta pengembangan berkelanjutan.
BHS meminta pemerintah, khususnya Direktorat Jenderal IKFT, untuk mengambil langkah konkret dalam memperkuat industri tersebut agar mampu menghasilkan produk yang terjangkau bagi masyarakat.
“Ini tugas kita bersama dalam menangani industri strategis. Industri ini perlu dilindungi dan dikembangkan agar produknya benar-benar bermanfaat bagi masyarakat dengan harga yang terjangkau,” tegasnya.
