JAKARTA — Badan Gizi Nasional (BGN) mengumumkan pemangkasan anggaran operasional mereka untuk tahun 2026 yang dilakukan sebanyak dua kali berturut-turut. Total pemotongan dana tersebut mencapai Rp39,62 triliun, sehingga menyunat pagu anggaran awal yang telah dialokasikan sebelumnya.

Wakil Kepala BGN, Agustina Arumsari, membeberkan bahwa pagu anggaran BGN tahun 2026 awalnya ditetapkan sebesar Rp268 triliun. Namun, kebijakan penajaman anggaran tahap pertama langsung memotong dana sebesar Rp38,25 triliun, yang kemudian disusul pemangkasan tahap kedua senilai Rp1,37 triliun.

“Bukan Rp268 triliun lagi, sudah berkurang karena tadi sudah diambil. Pagu awal Rp268 triliun, lalu untuk penajaman itu Rp38,25 triliun yang surat pertama, lalu ada lagi Rp1,37 triliun,” ujar Agustina di Gedung BGN, Jakarta, Kamis (18/6/2026).

Akibat dua kali pemotongan tersebut, kas yang kini dipegang oleh BGN menyusut ke angka Rp228,38 triliun. Agustina menegaskan bahwa sisa anggaran pascapenajaman inilah yang kini menjadi modal kerja lembaga untuk menjalankan program kerja kedepan.

“Di tahun ini pokoknya sisa pascapenajaman Rp228,38 triliun,” terang Agustina menjabarkan kondisi keuangan lembaga terkini kepada awak media.

Kendati demikian, pihak BGN memberikan sinyal bahwa nominal jumbo tersebut masih berpotensi menyusut kembali dalam beberapa waktu ke depan. Hal ini disebabkan oleh langkah internal lembaga yang terus melakukan berbagai penyesuaian anggaran secara ketat.

Saat ini, BGN tengah gencar melakukan langkah efisiensi menyeluruh, termasuk melakukan refocusing atau penataan ulang terhadap daftar penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah strategis ini diprediksi akan mengubah peta penyaluran program di lapangan.

“Nah ini nanti masih kami exercise lagi seperti yang tadi kan refocusing, penerima manfaat itu mungkin bisa jadi akan berkurang lagi,” jelas Agustina menutup keterangannya terkait potensi pengurangan dana lanjutan.