SIDOARJO – Tingginya harga kedelai yang masih dibayar para perajin tahu dan tempe menjadi perhatian Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono (BHS). Saat mengunjungi sentra industri tahu di Desa Tropodo, Kabupaten Sidoarjo, BHS menilai harga bahan baku tersebut masih dapat ditekan agar pelaku usaha memperoleh margin yang lebih baik dan harga pangan tetap terjangkau bagi masyarakat.
Menurut BHS, stabilitas harga kedelai memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan usaha mikro yang selama ini menjadi tulang punggung produksi tahu dan tempe. Selain berdampak pada para perajin, harga kedelai juga berpengaruh langsung terhadap harga jual produk yang dikonsumsi masyarakat sehari-hari.
Dalam perhitungannya, BHS menyebut harga kedelai impor seharusnya masih memungkinkan untuk diturunkan. Dengan asumsi nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp18.000 per dolar Amerika Serikat, harga kedelai di pasar internasional berada pada angka sekitar Rp7.200 per kilogram sebelum ditambah biaya pengiriman dan margin distribusi.
Ia menjelaskan, apabila ditambah ongkos kirim sekitar enam persen dan margin keuntungan yang wajar bagi distributor, harga kedelai yang diterima perajin seharusnya tidak melebihi Rp9.500 per kilogram. Sementara saat ini para pelaku usaha masih membeli kedelai dengan harga sekitar Rp10.500 per kilogram.
“Kalau dihitung dengan ongkos kirim sekitar 6 persen dan margin keuntungan yang wajar, harga kedelai yang sampai ke perajin seharusnya tidak lebih dari Rp9.500 per kilogram. Saat ini mereka masih membeli sekitar Rp10.500 per kilogram,” kata BHS.
Ia menegaskan bahwa kedelai merupakan komoditas strategis karena menjadi bahan baku utama produk pangan yang dikonsumsi masyarakat luas. Oleh sebab itu, pemerintah dinilai perlu memberikan perhatian khusus terhadap stabilitas harga komoditas tersebut.
BHS berharap harga kedelai dapat kembali turun ke kisaran Rp9.500 per kilogram, terlebih nilai tukar dolar terhadap rupiah mulai menunjukkan tren penurunan. Menurutnya, penurunan harga bahan baku akan memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk mempertahankan harga jual tahu dan tempe agar tetap terjangkau.
“Kalau harga bahan baku turun, harga tahu dan tempe di masyarakat juga bisa tetap terjangkau,” ujarnya.
Ia menilai upaya menjaga harga kedelai yang kompetitif tidak hanya membantu keberlangsungan usaha perajin, tetapi juga berkontribusi menjaga daya beli masyarakat terhadap kebutuhan pangan sehari-hari.
