Langsung ke konten
Senin, 26 Oktober 2026
Peristiwa

Kebakaran TPA Jatiwaringin Meluas Jadi 15 Hektare, 154 Warga Terserang ISPA

Sumber foto: CNN Indonesia

TANGERANG — Kebakaran hebat yang melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, kian meluas hingga mencapai 15 hektare. Pemerintah Kabupaten Tangerang kini resmi menetapkan status tanggap darurat setelah amukan api gagal dipadamkan selama lebih dari 24 jam.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa cuaca panas ekstrem dan angin kencang mempercepat perambatan api di gunungan sampah. Akibat situasi yang kian mengkhawatirkan, petugas di lapangan terpaksa mengombinasikan pemadaman jalur darat dan udara.

“Hingga saat ini, luas area yang terbakar diperkirakan mencapai 15 hektare,” ujar Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto di lokasi, Rabu (1/7). BNPB bahkan telah mengerahkan dua helikopter water bombing jenis MI-8AMT yang mampu menyiramkan 4.000 liter air per rit.

“Kita datangkan dua helikopter water bombing dan jika diperlukan lakukan operasi modifikasi cuaca,” sambung Suharyanto demi memadamkan titik api tersembunyi di dalam timbunan sampah.

Dampak buruk kebakaran ini langsung memicu krisis kesehatan lingkungan bagi warga sekitar. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang mencatat sebanyak 154 warga di Kecamatan Mauk, Rajeg, dan Sukadiri kini terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Kepala Dinkes Kabupaten Tangerang Hendra Tarmizi mengungkapkan bahwa mayoritas korban merupakan kelompok rentan seperti balita dan ibu hamil. Pihaknya bahkan harus mengevakuasi salah satu warga yang tengah mengandung ke fasilitas medis yang lebih memadai.

“Tadi kebetulan ada satu kasus tadi ada ibu hamil yang kita rujuk ke rumah sakit karena selain hamil, ada gangguan pernapasan,” kata Hendra menjelaskan kondisi darurat di lapangan.

Guna mengantisipasi situasi, Dinkes Tangerang menyiagakan 25 tenaga medis yang bertugas nonstop 24 jam di empat posko kesehatan darurat. Hendra juga mengimbau seluruh Puskesmas untuk mempertebal stok masker dan bersiap menghadapi potensi perubahan arah angin yang membawa asap pekat.

“Pada masyarakat yang sekitar TPA, segera jika ada asap itu segera hindari daerah asap itu dengan berpindah. Jika tidak memungkinkan, usahakan pakai masker,” tegas Hendra memungkasi penjelasannya.