Langsung ke konten
Senin, 26 Oktober 2026
Nasional

Indonesia Dorong ASEAN Bangun Ketangguhan Bencana Berkelanjutan

Sumber foto: (dok.Kemlu RI)

BANDUNG – Indonesia mendorong perubahan besar dalam tata kelola penanggulangan bencana di kawasan Asia Tenggara dengan mengusung konsep sustainable resilience atau ketangguhan berkelanjutan. Langkah tersebut disampaikan saat Indonesia menjalankan mandat sebagai Ketua ASEAN Committee on Disaster Management (ACDM) 2026 dalam Pertemuan ke-48 ACDM and Related Meetings yang berlangsung di Bandung, 28–29 Juli 2026.

Melalui kepemimpinan tersebut, Indonesia mengajak negara-negara ASEAN menggeser paradigma dari sekadar pengurangan risiko bencana (*disaster risk reduction*) menuju pendekatan yang lebih komprehensif dengan mengintegrasikan penanganan bencana, perubahan iklim, serta pembangunan ekonomi dan sosial kawasan.

Sekretaris Utama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Dr. Rustian, menegaskan bahwa implementasi ASEAN Agreement on Disaster Management and Emergency Response (AADMER) Work Programme 2026–2030 harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Sustainable Resilience harus menjadi kerangka kerja yang praktis dan lintas sektor bagi aksi ASEAN. Sejalan dengan ASEAN Leaders’ Declaration on Sustainable Resilience tahun 2023, ketangguhan harus berpusat pada masyarakat serta terintegrasi dalam seluruh sektor dan tiga Pilar Komunitas ASEAN,” ujar Rustian saat membuka pertemuan.

Dalam forum tersebut, Indonesia juga mendorong penguatan kesiapsiagaan kawasan melalui pemanfaatan data, teknologi, sistem peringatan dini, hingga investasi berkelanjutan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat lokal menghadapi bencana.

Salah satu inisiatif yang disorot ialah Aksi Merespons Peringatan Dini (AMPD), yang dinilai mampu mengubah informasi risiko menjadi langkah antisipatif sebelum dampak bencana semakin meluas. Pengalaman Indonesia dalam menerapkan pendekatan tersebut diharapkan dapat menjadi praktik baik bagi negara-negara ASEAN untuk mendukung implementasi ASEAN Community Vision 2045, khususnya pada pilar sosial budaya.

Dukungan terhadap penguatan kerja sama regional juga disampaikan Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri RI, Duta Besar Ina Krisnamurthi. Dalam sesi terbuka bersama mitra ASEAN, ia menekankan pentingnya kolaborasi internasional dalam membangun ketangguhan kawasan.

“Kerja sama ASEAN dengan para mitra bukan sekadar reaksi terhadap bencana, tetapi membangun perisai bersama. Tanpa kerja sama, ketangguhan berkelanjutan tidak dapat terwujud,” kata Ina.

Pertemuan tersebut dihadiri sembilan negara mitra ASEAN, yakni Australia, Kanada, Uni Eropa, Selandia Baru, Rusia, Amerika Serikat, Inggris, Turki, dan Prancis. Selain itu, lima organisasi internasional seperti UNOCHA, UNDP, IOM, IFRC, dan ADPC turut berpartisipasi mendukung penguatan kapasitas penanggulangan bencana di kawasan.

Melalui Keketuaan ACDM 2026, Indonesia menargetkan peningkatan kapasitas antisipasi dan sistem peringatan dini, memperkuat peran komunitas lokal, sekaligus mendorong ASEAN berkontribusi dalam pembentukan norma ketahanan bencana global pasca-target Sustainable Development Goals (SDGs) 2030. Pertemuan ke-48 ACDM juga menjadi penanda satu dekade Deklarasi One ASEAN, One Response, sebelum agenda dilanjutkan pada Pertemuan ACDM ke-49 dan AMMDM ke-14 pada November 2026.