SURABAYA — Subsektor kuliner resmi mengukuhkan posisinya sebagai penyumbang pendapatan terbesar dalam ekosistem ekonomi kreatif nasional, mengungguli industri fashion dan kriya. Potensi besar ini dinilai membutuhkan dorongan masif dari sisi peningkatan kualitas produk hingga penguatan promosi digital agar para pelaku usaha mampu memperluas pangsa pasar.
Hal tersebut ditegaskan oleh Anggota DPR RI sekaligus Ketua Kelompok Fraksi Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono. Ia menyampaikan pesan ini di hadapan sekitar 70 pelaku usaha kuliner dalam agenda Bimbingan Teknis (Bimtek) Ekonomi Kreatif di Surabaya, Jumat.
“Kuliner ini yang terbesar. Yang kedua fashion, yang ketiga kriya. Kita harapkan bimtek ini diikuti dengan baik sehingga peserta bisa menjadi pengusaha-pengusaha yang handal, mulai dari kecil, menengah, hingga menjadi pengusaha besar di bidang kuliner,” ujar Bambang Haryo.
Ia menilai industri kuliner memiliki keterkaitan erat dengan sektor pariwisata daerah. Kehadiran makanan khas daerah terbukti menjadi magnet kuat yang mendorong peningkatan kunjungan wisatawan, sehingga kedua sektor ini harus saling bersinergi demi memperkuat perekonomian lokal.
Guna mencapai target tersebut, para pelaku usaha diimbau untuk terus melengkapi perizinan resmi, menjaga cita rasa, mempercantik kemasan, serta gencar memanfaatkan promosi digital. Dari sisi permodalan, pemerintah telah menyediakan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga Rp100 juta tanpa agunan dengan bunga 8 persen, disertai pengawasan dari Satgas UMKM untuk menjamin keamanan usaha.
Dukungan senada datang dari pihak eksekutif. Sekretaris Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekonomi Kreatif, Amir Hamzah, menyatakan bahwa pengembangan kuliner khas Surabaya kini diarahkan untuk memperkuat identitas merek lokal agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
“Kuliner seperti rujak cingur dan spikoe telah dikenal luas. Namun, penguatan merek, kemasan, dan daya tahan produk masih menjadi faktor penting untuk memperluas jangkauan pemasaran,” ungkap Amir Hamzah.
Melalui sinergi antara Komisi VII DPR RI dan Kementerian Ekonomi Kreatif ini, para pelaku usaha kuliner diharapkan tak hanya mampu bertahan di pasar lokal, tetapi juga siap membawa ragam cita rasa Nusantara menembus pasar global.
