Ketapang – Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono (BHS) menilai lintasan penyeberangan Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi menuju Pelabuhan Gilimanuk di Jembrana, Bali merupakan jalur strategis bagi mobilitas wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Ia mengingatkan, agar kepadatan kendaraan akibat keterbatasan dermaga tidak sampai menurunkan minat wisatawan untuk berkunjung ke Bali ataupun melakukan perjalanan ke Pulau Jawa.

Menurut pemilik sapaan akrab BHS, kelancaran transportasi di lintasan tersebut sangat penting karena Bali dikenal sebagai salah satu destinasi pariwisata dunia. Ia menilai antrean panjang kendaraan yang kerap terjadi berpotensi menimbulkan kesan kurang baik apabila tidak segera ditangani dengan peningkatan infrastruktur.

“Jangan sampai kondisi ini membawa citra negatif bagi sektor pariwisata. Kita tahu, Bali merupakan destinasi wisata internasional, sehingga akses transportasinya harus benar-benar memberikan rasa aman dan nyaman bagi wisatawan,” ujarnya, Senin (16/3).

Ketua Dewan Pembina Masyarakat Transportasi (MTI) pusat ini, juga menyoroti adanya penurunan jumlah wisatawan yang datang ke Bali. Berdasarkan data, kunjungan wisatawan yang sebelumnya mencapai sekitar 6 juta orang kini tersisa sekitar 2 juta atau sekitar 20 persen.

Karena itu, BHS menilai penambahan infrastruktur dermaga di lintasan Ketapang–Gilimanuk menjadi sangat penting yang perlu segera direalisasikan.

“Ini perlu menjadi perhatian dan prioritas untuk segera membangun dua pasang dermaga, masing-masing di Pelabuhan Ketapang maupun di Pelabuhan Gilimanuk, sehingga dapat menampung 40% kapal yang tidak bisa beroperasi” kata anggota DPR-RI dari Fraksi Partai Gerindra itu.

BHS menjelaskan keterbatasan jumlah dermaga di kedua pelabuhan menjadi salah satu penyebab antrean panjang kendaraan, terutama pada periode arus mudik dan libur Lebaran.

“Dalam satu dermaga sebenarnya digunakan secara bergantian oleh empat kapal, sementara kapal feri yang belum mendapatkan kesempatan operasional masih cukup banyak, dari total 55 kapal yang beroperasi hanya sekitar 60%” ujarnya.

Maka itu, BHS mendorong pemerintah untuk segera menambah dermaga di lintasan tersebut, baik melalui skema penyertaan modal negara (PMN) kepada ASDP maupun dukungan anggaran dari APBN.

“Nanti kami suarakan di rapat paripurna DPR. Jangan sampai lintasan Ketapang–Gilimanuk yang menjadi akses penting menuju Bali sebagai ikon pariwisata dunia justru membuat wisatawan enggan datang karena persoalan akses transportasi,” katanya.

Berdasarkan data yang dihimpun, saat ini terdapat 17 dermaga aktif di lintasan Ketapang–Gilimanuk, yakni sembilan dermaga di Pelabuhan Ketapang yang terdiri atas empat dermaga jenis MB, tiga dermaga LCM, satu ponton, dan satu Bulusan. Sementara di Pelabuhan Gilimanuk terdapat delapan dermaga, yakni empat dermaga MB dan empat dermaga LCM.

“Dengan peningkatan kapasitas infrastruktur tersebut, diharapkan arus penyeberangan Ketapang-Gilimanuk menjadi lebih lancar, antrean kendaraan dapat ditekan, serta akses menuju Bali sebagai destinasi pariwisata dunia tetap nyaman dan aman bagi wisatawan” Tutup BHS.