Oleh: Robertus Bria Seran, S.Pt.

Waktu terus berjalan.
Namun tekanan… tidak pernah benar-benar hilang. Ia justru datang, semakin nyata, semakin berat.

Suatu hari, kami dihadapkan pada satu kasus, lebih besar dari sebelumnya. Bukan lagi sekadar keresahan warga, tetapi persoalan yang dalam, sensitif, dan penuh risiko.

Kami tahu…
sekali melangkah, tidak ada ruang untuk setengah hati. Hari itu, saya melihat PIT SERAN. Tenang. Diam. Tapi penuh keyakinan. “Kita lanjut,” katanya singkat.

Tanpa ragu, tanpa takut. Kami bergerak, mengumpulkan fakta yang tidak semua orang berani sentuh. Semakin dalam kami masuk, tekanan semakin terasa.

Ada yang mendekat… bukan untuk membantu, melainkan untuk menghentikan. Di titik itu, kami sadar, jalan ini tidak pernah mudah.

Kami hanya mengurus koran lokal.
Tanpa gaji, tanpa jaminan.
Modal kami sederhana: semangat… dan idealisme.

Setiap berita kami tulis dengan tangan. Malam hari, sekitar pukul 22.00 atau 23.00 WITA, kami berangkat dari Weliman menuju Atambua. Menembus gelapnya hutan Wemer. Kami memilih berjalan malam. Bukan karena berani… tapi karena jalanan sepi, dan motor bisa melaju tanpa hambatan.

Di tengah dingin dan sunyi, hanya ada kami, suara mesin, dan keyakinan bahwa apa yang kami lakukan… berarti. Dalam perjalanan itu, kami sering berdiskusi. Apa yang membuat kami bertahan sejauh ini?

Lalu kami ingat satu nama, Vinsen Nahak Bria (Alm). Wartawan senior asal Kmilaran, Desa Laleten.
Dialah yang menyalakan api dalam diri kami. Bahwa menjadi wartawan… bukan soal gaji,
melainkan keberanian untuk menyuarakan kebenaran. Perjalanan terus berlanjut.

Setelah Koran Mingguan Solusi berhenti terbit, saya dan Pit Seran bergabung dengan Mingguan Suara Perbatasan, di bawah kepemimpinan Markus Bria Berek.

Redaksi kami berpindah-pindah. Maklum, belum ada komputer.
Semua masih ditulis tangan. Kami bekerja bersama banyak nama:
Herry Klau, Julius Hale, Esta Mali, Maxi Loe, Vinsen Nahak (Alm), Theo Manek (Alm), Robi Asra (Alm), Umbu Ladongo, dan Kobus Molo Dini.

Setelah koran terbit, PIT SERAN sendiri yang mengantar ke pelanggan, menjangkau 12 kecamatan di wilayah Malaka.

Saat proses cetak di Kupang dimulai, Pit Seran dan Theo Manek mengambil peran penting.
Mereka mengetik, bahkan menyiapkan kopi. Mereka bukan hanya wartawan. Mereka juga pejuang… dengan cara yang sederhana.

Dari Suara Perbatasan, jalan kami mulai bercabang. Vinsen Nahak, Maxi Loe, Robi Asra dan Kobus Molo Dini mendirikan Koran Mingguan Fajar Timor di Wekatimun.

Sementara saya, Herry Klau, Theo Manek (Alm), Pit Seran (Alm), dan Ipy Bitin Berek, bersama kakak Remi Bria, mendirikan Timor Line di Motabuik. Namun perjalanan belum selesai.

Setelah Timor Line berhenti, kami kembali melangkah, mendirikan Tabloid Mingguan Timor News bersama Herry Klau, Rony Mau Luma, Engki Mao, Herry Kolo, dan Pit Seran (Alm).

Awalnya hanya 8 halaman hitam putih. Kemudian berkembang menjadi 16 halaman, dengan warna di halaman depan dan belakang.

Dalam perjalanannya, banyak yang ikut bergabung: Matt Nenometa, Rony Seran, Anus Ati, Maksi Mau Bele, Maksi Nahak, Dami Atok, Blasius Nahak, Pius Teti (Alm), Serfinus Seran Berek, Korinus Takoan, hingga Sigiranus Marutho Bere—yang kini menjadi wartawan nasional, Kompas.com.

Namun di balik semua perjalanan itu, PIT SERAN tetap sama.
Ia tidak mencari nama. Tidak mengejar pujian. Ia hanya menulis… apa yang benar.

Dan di situlah saya mengerti,
“danger” bukan sekadar julukan.
Ia adalah keberanian untuk berdiri
di tempat yang tidak semua orang sanggup tempati.

Kini, yang tersisa bukan hanya cerita. Tetapi pelajaran hidup.
Bahwa keberanian…
bukan soal kerasnya suara,
melainkan keteguhan untuk tetap jujur dalam keadaan apa pun.

Dan PIT SERAN… telah menunjukkan itu sepanjang hidupnya. Namun, ada satu bagian yang paling sulit diceritakan, bukan tentang keberanian, melainkan tentang kehilangan.