JAKARTA – Produsen pesawat asal Eropa, Airbus, membuka peluang membangun pabrik pesawat di Indonesia seiring meningkatnya kebutuhan armada penerbangan nasional dalam dua dekade mendatang. Pemerintah menilai langkah tersebut dapat menjadi momentum memperkuat ekosistem industri dirgantara nasional.
Deputi Bidang Ekonomi dan Transformasi Digital Kementerian PPN/Bappenas, Vivi Yulaswati, mengatakan Airbus mulai melihat Indonesia sebagai pasar strategis setelah memproyeksikan lonjakan kebutuhan pesawat domestik hingga 2045.
“Karena kita juga secara domestik growing kebutuhan pesawat kita, dia juga ingin buat pabrik di Indonesia,” ujar Vivi usai penandatanganan kerja sama dengan Airbus di Kantor Bappenas, Jakarta Pusat, Rabu (6/5/2026).
Menurut Vivi, saat ini Airbus hanya memiliki empat fasilitas produksi utama di Eropa, yakni di Inggris, Prancis, Jerman, dan Spanyol. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan tersebut mulai memperluas basis produksinya ke Asia melalui China dan India.
Pemerintah memperkirakan tingkat perjalanan udara masyarakat Indonesia yang saat ini berada di angka 0,4 perjalanan per kapita per tahun akan meningkat menjadi 1,4 perjalanan per kapita per tahun dalam 20 tahun ke depan.
Pertumbuhan itu diperkirakan mendorong trafik penumpang udara nasional naik rata-rata 7,4% per tahun hingga mencapai 477 juta penumpang. Angka tersebut melampaui rata-rata pertumbuhan global yang berada di kisaran 3,6%.
Dari proyeksi tersebut, kebutuhan armada pesawat Indonesia diperkirakan melonjak hampir tiga kali lipat, dari sekitar 550 unit aktif saat ini menjadi sekitar 1.900 unit pada 2045.
Meski demikian, Vivi menegaskan pembangunan pabrik pesawat tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Menurutnya, Indonesia masih perlu memperkuat kualitas sumber daya manusia, teknologi produksi, hingga standardisasi industri.
“Nah itu yang akan dikerjakan atau mendukung Indonesia untuk membangun ekosistem industri kedirgantaraan,” katanya.
Sebagai tahap awal, Airbus dan pemerintah akan fokus mengembangkan sektor maintenance, repair, and overhaul (MRO), penguatan kapasitas industri, serta pengembangan tenaga ahli penerbangan.
Presiden Airbus Asia-Pacific, Anand Stanley, mengatakan kerja sama Airbus dengan Indonesia sebenarnya telah berlangsung lebih dari 50 tahun. Indonesia saat ini telah menjadi bagian dari rantai pasok komponen pesawat Airbus tipe A320, A330, A350, hingga helikopter H225.
“Sekaranglah saatnya bagi kami untuk sepenuhnya memulai perjalanan ini dengan Indonesia,” ujar Stanley.
Ia menambahkan Airbus memiliki visi jangka panjang menjadikan Indonesia sebagai bagian penting dari ekosistem industri penerbangan global, mulai dari pesawat komersial, militer, helikopter, hingga pengembangan SDM dan rantai pasok industri dirgantara.
