Mewaspadai Penyebaran Radikalisme di Masyarakat

Mewaspadai Penyebaran Radikalisme di Masyarakat

Oleh : Abdul Rozak

Radikalisme wajib diwaspadai agar tak menyebar di seluruh negeri ini. Jangan sampai karena ketidaktahuan, akhirnya masuk ke kelompok tersebut lalu salah jalan.

Penyebaran radikalisme adalah sebuah tugas besar karena jangan sampai banyak yang mengiranya benar karena terkena akal bulus dari kelompok radikal.

Paham ini jelas berbahaya karena bisa memecah persatuan bangsa, juga menggunakan jalan kekerasan sehingga bisa mengancam nyawa warga sipil dan merusak fasilitas umum.

H. Ahmad Mudhlor Ali atau yang akrab dengan sapaan Gus Mudhlor, Bupati Sidoarjo, menyatakan bahwa dari 18 kecamatan yang ada di Sidoarjo, 15 di antaranya ditengarai terafiliasi dengan kelompok radikal. Dari 15 kecamatan tersebut ada yang berstatus kuning sampai merah, di antaranya kecamatan Sedati, Candi, Tarik, Gedangan, Buduran, Balongbendo, dll.

Dalam artian, Sidoarjo sudah dalam fase berbahaya karena mayoritas wilayahnya berafiliasi dengan radikalisme. Padahal kelompok radikal juga berafiliasi dengan kelompok teroris.

Kita juga tidak mau di sana jadi memiliki predikat sarang radikal dan teroris. Oleh karena itu perlu ada pemberantasan radikalisme dengan cara spartan agar radikalisme benar-benar hilang.

Gus Mudhlor menambahkan, menurut pemantauan, ada 1 tempat yang dicurigai memiliki bunker berisi senjata. Beliau tentu ingin ada penyelidikan lebih lanjut dan jika ternyata benar maka senjara tersebut harus disita karena tidak memiliki izin resmi.
Kelompok radikal yang ada di Sidoarjo wajib diberantas karena pertama, mereka bukan warga asli sana melainkan pendatang, dan seharusnya menaati tata tertib. Kedua, penyebaran radikalisme sudah masuk ke wilayah perumahan dan tempat ibadah. Sehingga harus dihentikan sekarang juga.
Masyarakat harus mewaspadai penyebaran radikalisme di perumahan karena rata-rata di sana penduduknya adalah pendatang. Sebagai pendatang biasanya ada yang cuek dan ada yang mudah akrab. Akan tetapi jangan sampai sifat yang mudah akrab dengan orang lain malah membawa kita ke radikalisme, karena tidak boleh bergaul dengan orang yang salah.
Masyarakat harus memahami ciri-ciri orang yang sudah terkena paham radikalisme misalnya selalu bercerita tentang jihad dan negara khilafah. Mereka juga biasanya tidak mau memajang foto presiden dan wakilnya di dinding rumah, karena menganggap pemerintahan yang sekarang tidak sah. Jika benar ada tetangga yang ternyata anggota kelompok radikal maka laporkan saja ke aparat keamanan, agar tidak meresahkan orang lain.
Selain itu, sebuah rumah ibadah yang ternyata radikal harus diperhatikan ciri-cirinya. Pertama, biasanya saat khutbah selalu menyentil dan menyalahkan pemerintah, lalu mereka bilang lebih baik ganti jadi negara khalifah. Mereka ngomong begitu seolah-olah pintar sendiri padahal tak tahu bahwa kekhalifahan tidak cocok diberlakukan di Indonesia yang majemuk.
Kedua, sebuah rumah ibadah yang radikal tidak mau melakukan toleransi dan bahkan bisa menghasut jamaahnya untuk memusuhi. Padahal permusuhan dengan umat keyakinan lain tentu berbahaya karena bisa menyebabkan tawuran atas nama SARA. Lebih ekstrim lagi, ada rumah ibadah yang ‘eksklusif’, saat yang beribadah di sana bukan jamaahnya, setelah itu langsung dipel berkali-kali.
Masyarakat perlu mewaspadai penyebaran radikalisme agar jangan sampai terjebak di dalamnya. Selain itu, pemberantasan radikalisme bisa dimulai dari grup WA, karena di sanalah banyak tersebar berita hoaks dan propaganda tentang radikalisme. Jika memang benak hoaks maka jelaskan bahwa itu salah, agar tidak ada anggota grup yang terpengaruh radikalisme.
Penyebaran radikalisme patut untuk diwaspadai karena sudah menyebar dengan masif, bahkan dikabarkan ada 1 tempat di Sidoarjo yang memiliki bunker untuk menyimpan senjata. Hal ini mengungkapkan kengerian jika berhadapan dengan kelompok radikal. Oleh karena itu jangan ragu untuk melapor ke aparat jika sekiranya kenal dengan orang atau tempat yang dicurigai berpaham radikalisme.

)* Penulis adalah kontributor Nusa Bangsa Institute

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.