Surabaya – Anggota Komisi VII DPR RI, Ir. H. Bambang Haryo Soekartono (BHS), menilai museum dan destinasi wisata sejarah memiliki potensi besar untuk mendongkrak kunjungan wisatawan mancanegara. Hal itu ia sampaikan saat mengunjungi Museum HOS Tjokroaminoto di Kampung Peneleh, Surabaya, Kamis (7/8/2025), dalam rangka kegiatan reses.

Museum yang berlokasi di Jalan Pandean IV Nomor 15 itu dulunya merupakan rumah tokoh pergerakan organisasi Islam Indonesia, HOS Tjokroaminoto. Tempat ini pernah menjadi pusat aktivitas diskusi para pemuda dan rumah kos bagi pelajar di Surabaya. Kini, bangunan tersebut dikelola Pemerintah Kota Surabaya sebagai destinasi wisata sejarah.

“Potensi wisata bersejarah berupa museum atau budaya sangat penting. Museum di tingkat kota, kabupaten, maupun provinsi harus terus digencarkan. Turis mancanegara lebih suka museum daripada wisata alam,” kata BHS.

Ia mencontohkan Thailand yang mampu menarik jutaan wisatawan dengan mengandalkan sejarah dan budaya, meskipun minim kekayaan alam. “Thailand tidak punya gunung, hanya sungai. Tapi mereka bisa eksplorasi museum hingga mendongkrak wisatawan. Indonesia punya 200 gunung berapi, 200 gunung nonaktif, dan banyak air terjun, tapi masih kalah jumlah turisnya,” ujarnya.

Menurut BHS, Malaysia juga berhasil menggaet 29 juta turis mancanegara, sementara Indonesia baru mencapai sekitar 14 juta. Padahal, Indonesia memiliki kekayaan sejarah yang lebih besar, termasuk lebih dari 400 kerajaan, jauh melampaui Malaysia dengan sembilan kerajaan dan Thailand dengan tiga kerajaan.

Ia menekankan pentingnya mengenalkan sejarah dan budaya sejak dini, terutama kepada generasi muda. “Semakin banyak yang berkunjung, perkembangan museum akan semakin pesat,” ucapnya.

Selain promosi, BHS menyoroti pentingnya infrastruktur transportasi publik yang memudahkan akses antar museum. Menanggapi hal itu, Kepala UPTD Museum dan Budaya Pemkot Surabaya, Saidah, mengungkapkan rencana penggunaan transportasi air yang akan melewati wilayah museum.

“Nanti menggunakan perahu yang melewati museum. Dermaganya sudah ada, tapi belum terlaksana karena terkendala debit air,” jelas Saidah.

BHS berharap, dengan perbaikan akses, promosi budaya, dan pengelolaan yang baik, museum-museum di Indonesia dapat menjadi magnet wisata sejarah yang mampu bersaing di tingkat internasional.