Sidoarjo — Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Bambang Haryo Soekartono (BHS), kembali menegaskan pentingnya optimalisasi layanan transportasi publik berbasis kebutuhan masyarakat, khususnya angkutan kereta api di wilayah Sidoarjo–Surabaya. Dalam kunjungannya ke Stasiun KAI Gedangan, BHS menyoroti skema operasional kereta yang masuk kategori Public Service Obligation (PSO) serta persoalan kemacetan kronis di perlintasan sebidang Gedangan.

Menurut BHS, layanan kereta api PSO tidak semata-mata diukur dari jumlah penumpang, melainkan dari jumlah perjalanan atau trip yang disediakan untuk melayani mobilitas masyarakat, terutama pekerja. Skema subsidi pemerintah, kata dia, memang dirancang agar kereta tetap beroperasi meskipun fluktuasi penumpang terjadi.

“Kereta ini masuk kategori PSO. Subsidi lebih banyak berbasis trip, bukan jumlah penumpang. Kalau jadwalnya sesuai kebutuhan masyarakat, terutama jam kerja, KAI juga akan mendapat demand yang cukup untuk operasional,” ujar BHS.

Ia menilai, kebutuhan perjalanan kereta di lintasan Sidoarjo–Surabaya masih sangat besar, mengingat kawasan ini merupakan penyangga utama aktivitas ekonomi dan industri Jawa Timur. Ribuan pekerja setiap hari bergantung pada moda transportasi massal yang terjangkau, aman, dan tepat waktu.

Selain soal layanan kereta, BHS juga menaruh perhatian serius pada persoalan kemacetan di sekitar perlintasan sebidang Stasiun Gedangan. Menurutnya, rencana pengembangan double track kereta api justru berpotensi memperparah kemacetan jika tidak diiringi pembangunan infrastruktur jalan yang memadai.

“Kalau double track terealisasi dan rangkaian kereta ditambah, sementara jalan darat tidak dibenahi, kemacetan pasti semakin parah,” tegasnya.

Sebagai solusi, BHS mengusulkan pembangunan flyover atau jalan layang di kawasan perlintasan sebidang Gedangan. Flyover ini dinilai strategis untuk mengurai kepadatan lalu lintas, khususnya kendaraan dari dan menuju kawasan industri di Sedati dan Gedangan.

Flyover tersebut diharapkan dapat menghubungkan arus Surabaya–Sedati dan Sedati–Surabaya tanpa harus berhenti setiap kali kereta melintas. Dengan demikian, aktivitas logistik dan mobilitas pekerja tidak lagi terganggu.

“Selain mengurangi kemacetan, pembangunan flyover juga penting untuk menekan potensi kecelakaan di perlintasan sebidang,” kata BHS.

Ia menegaskan akan membawa usulan tersebut ke tingkat pusat dengan melibatkan Kementerian Perhubungan, PT KAI, serta pemerintah daerah, agar kebutuhan transportasi massal dan solusi kemacetan dapat ditangani secara terpadu.

Sementara itu, Kepala Stasiun KAI Gedangan, Chrisna Setiawan, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat delapan perjalanan kereta dari Sidoarjo ke Surabaya setiap harinya. Jadwal paling pagi dari Sidoarjo menuju Surabaya dimulai pukul 05.30 WIB, sementara dari Surabaya ke Sidoarjo dimulai pukul 04.30 WIB, dengan jadwal terakhir pukul 21.00 WIB.

“Terkait usulan Bapak BHS memang betul perlu ada tambahan perjalanan KA untuk mengakomodir pekerja,” ujar Chrisna.