Banyuwangi – Kemacetan panjang di lintasan penyeberangan Ketapang–Gilimanuk dinilai berpotensi mengganggu sektor pariwisata Bali. Antrean kendaraan yang mengular hingga puluhan kilometer dikhawatirkan menurunkan minat wisatawan untuk berkunjung.

Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono, menegaskan kondisi tersebut harus segera diatasi agar tidak berdampak pada ekonomi nasional. Hal itu disampaikannya usai rapat koordinasi dengan sejumlah pemangku kepentingan di Pelabuhan Ketapang, Senin (6/4/2026).

“Jangan sampai kemacetan ini membuat orang enggan berpariwisata. Dampak multiplier ekonomi dari sektor wisata sangat besar,” ujarnya.

Menurut Bambang, sektor pariwisata merupakan salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional. Jika terganggu, target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen berpotensi tidak tercapai.

Ia mengungkapkan target kunjungan wisatawan ke Bali tahun ini cukup tinggi, yakni sekitar 12 juta wisatawan domestik dan 7,5 hingga 8 juta wisatawan mancanegara. Karena itu, kelancaran akses menuju Pulau Dewata menjadi faktor krusial.

Selain itu, Bambang juga menyoroti pemberitaan yang lebih menonjolkan kemacetan dibanding kondisi terkini yang mulai membaik. Ia menilai hal tersebut dapat membentuk persepsi negatif di kalangan wisatawan.

“Yang masuk berita hanya macet, padahal sekarang sudah mulai lengang. Kami berharap langkah ke depan bisa memicu pertumbuhan pariwisata,” katanya.

Dalam rapat tersebut, disimpulkan bahwa penyebab utama kemacetan bukan kekurangan kapal, melainkan keterbatasan dermaga. Ia menegaskan penambahan dermaga menjadi solusi utama yang harus segera direalisasikan.

“Semua sepakat masalah utamanya bukan kapal, tetapi kekurangan dermaga. Ini harus segera direalisasikan,” ujar Bambang.