JAKARTA – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, menekankan pentingnya transformasi ekosistem pendidikan yang utuh dan berkelanjutan. Hal ini disampaikan dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Jakarta, Sabtu (2/5/2026).

Brian menegaskan bahwa pendidikan nasional harus menjadi satu kesatuan yang menghubungkan pembelajaran dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi dengan dunia riset. Target akhirnya adalah mengubah pengetahuan menjadi inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

“Pendidikan nasional harus kita bangun sebagai satu ekosistem yang utuh dan berkelanjutan. Dari pembelajaran menuju riset, dari pengetahuan menuju inovasi,” ujar Brian dalam upacara di kantor Kemdiktisaintek yang disiarkan melalui kanal YouTube resmi.

Pemerintah kini mulai memperkuat fondasi pembelajaran melalui pendekatan deep learning. Metode ini bertujuan agar peserta didik tidak hanya menghafal materi, tetapi juga mampu menalar dan menerapkan ilmu dalam kehidupan nyata melalui bantuan teknologi digital.

Selain kurikulum, fokus pemerintah tertuju pada peningkatan kompetensi tenaga pendidik. Brian memastikan para guru dan dosen akan dibekali keahlian masa depan seperti penguasaan kecerdasan artifisial (AI), coding, hingga program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).

“Kepada para guru, dosen, dan peneliti, kami sampaikan penghargaan setinggi-tingginya. Di tangan saudara-saudaralah masa depan bangsa ditanam dan dirawat setiap hari,” tambah Brian.

Terkait relevansi kurikulum, Brian mengklarifikasi isu penutupan program studi yang sempat mencuat. Senada dengan pernyataan Plt. Sekjen Kemdiktisaintek, Badri Munir Sukoco sebelumnya, Brian menjelaskan fokus utama saat ini adalah mengembangkan keilmuan agar tetap adaptif terhadap kebutuhan zaman.

Melalui pendekatan pentahelix dan pengembangan Science Techno Park, Brian meminta agar riset tidak berhenti sebagai dokumen publikasi semata. Riset harus bermuara pada solusi strategis di bidang pangan, energi, kesehatan, dan lingkungan.

“Jangan takut untuk bermimpi besar. Masa depan Indonesia tidak diwariskan, ia dibangun melalui karakter, ilmu, dan kolaborasi,” tegas Guru Besar ITB tersebut menutup pidatonya.