JAKARTA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI secara resmi mengumumkan temuan kasus Hantavirus di tanah air. Berdasarkan laporan terbaru, varian yang menyebar di Indonesia berbeda dengan tipe yang memicu kematian di wilayah Amerika.

​Pemerintah mengidentifikasi bahwa Hantavirus di Indonesia merupakan tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Penyakit ini umumnya tersebar di kawasan Eropa dan Asia dengan karakteristik klinis yang spesifik pada gangguan ginjal.

​Kemenkes menegaskan tipe ini berbeda dengan Hantapulmonary Syndrome (HPS) yang berasal dari Andes Virus. Tipe HPS tersebut sebelumnya menjadi sorotan dunia setelah menyebabkan tiga orang tewas di kapal pesiar MV Hondius.

​”Kasus konfirmasi: Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) strain Seoul Virus,” tulis laporan resmi Kemenkes yang dikutip pada Minggu (10/5/2026).

​Hingga minggu ke-16 tahun 2026, tercatat sudah ada 23 kasus konfirmasi HFRS di Indonesia. Meski demikian, masyarakat diminta tidak panik karena tingkat kematian atau Case Fatality Rate (CFR) tipe ini jauh lebih rendah dibandingkan tipe HPS.

​Data Kemenkes menunjukkan CFR untuk tipe HFRS berada di kisaran 5-15 persen. Angka ini terpaut jauh dari tipe HPS yang ditemukan di MV Hondius dengan tingkat kematian mencapai 60 persen.

​Gejala yang harus diwaspadai masyarakat meliputi demam, sakit kepala, nyeri badan, hingga lemas (malaise). Dalam beberapa kasus, pasien juga mengalami kondisi tubuh menguning atau jaundice dengan masa inkubasi satu hingga dua minggu.

​Berdasarkan Studi Rikhus Vektora, Kemenkes menemukan keberadaan virus ini pada tikus dan celurut di 29 provinsi. Faktor risiko utama penularan berasal dari kontak langsung dengan hewan pengerat tersebut, termasuk paparan sekresi atau kotorannya.

​Pemerintah mengimbau masyarakat untuk memperketat kebersihan lingkungan tempat tinggal guna memutus rantai penularan. Upaya pencegahan utama adalah menghindari kontak dengan tikus serta rajin mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer.