MANADO — Gempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 yang berpusat di Filipina memicu kepanikan di wilayah Sulawesi Utara pada Senin (8/6/2026) pagi. Guncangan hebat tersebut mengakibatkan kerusakan bangunan, korban luka, hingga kemunculan tsunami minor di sejumlah kawasan pesisir.

​Berdasarkan data sementara yang dihimpun Kantor SAR Manado, sedikitnya tiga warga dilaporkan mengalami luka ringan. Selain itu, guncangan hebat ini juga merusak infrastruktur warga di wilayah kepulauan.

​”Dua unit rumah di wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe dilaporkan mengalami kerusakan ringan,” ujar Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Manado, George Mercy Randang dalam rilis resminya, Senin (8/6/2026).

​Pihak Basarnas menegaskan bahwa pengumpulan data di lapangan masih terus berjalan. Petugas di lapangan masih mengantisipasi adanya dampak lanjutan yang belum terlaporkan oleh warga.

​“Sementara untuk perkembangan terkait dampak dari gempa, tentunya kami menyesuaikan dari informasi terbaru dari masyarakat, dan saat ini masih kami pendalaman,” ungkap George.

​Salah satu dampak serius dilaporkan terjadi di Kabupaten Kepulauan Talaud. Seorang warga terpaksa harus dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat setelah sempat kehilangan kesadaran akibat peristiwa tersebut.

​”Informasi dari Kades Nunu, Kecamatan Rainis, korban atas nama Asna Bawiling sekarang menuju puskesmas untuk mendapatkan perawatan di Puskesmas Rainis. Korban dalam keadaan tidak sadar,” tambah Humas Basarnas Sulut, Nuriadin Gumeleng.

​Di sisi lain, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi bahwa gempa yang terjadi pada pukul 06.37 WIB ini memicu tsunami kecil. Sebanyak 17 daerah kini berstatus siaga dan 13 daerah lainnya masuk kategori waspada.

​Berdasarkan pemutakhiran data hingga pukul 08.22 WIB, gelombang tsunami dengan ketinggian di bawah 20 sentimeter telah terdeteksi di beberapa stasiun pemantau muka air laut. BNPB mengimbau masyarakat di wilayah pesisir untuk tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan.