CILACAP – Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto yang akrab disapa Titiek Soeharto, melakukan kunjungan kerja ke Pulau Penjara Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, Sabtu (20/6/2026). Didampingi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Menimipas) Agus Andrianto, kunjungan ini bertujuan meninjau langsung transformasi pulau legendaris tersebut menjadi pusat kemandirian.
Rombongan bertolak dari Dermaga Wijayapura menggunakan Kapal Pengayoman milik Ditjenpas pada pukul 09.16 WIB. Hanya berselang 13 menit, kapal yang juga membawa Dirjenpas Mashudi dan Dirjen Imigrasi Hendarsam Marantoko tersebut bersandar di Dermaga Sodong, Nusakambangan.
Sejak era kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, wajah Nusakambangan yang semula dikenal menyeramkan kini mulai berubah. Pulau ini diarahkan menjadi pusat pengembangan keterampilan narapidana, mulai dari sektor ketahanan pangan hingga pemberdayaan UMKM.
Transformasi ini berawal dari ide Menteri Agus Andrianto pasca-dilantik oleh Presiden Prabowo. Di masa transisi kementerian, Menimipas menerima laporan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengenai banyaknya lahan tidur atau idle milik instansinya.
Menteri Agus bergerak cepat menghidupkan kembali lahan-lahan tersebut dengan membangun Balai Latihan Kerja (BLK). Langkah ini diambil agar para warga binaan memiliki kegiatan produktif yang bermanfaat sebagai bekal setelah mereka bebas nanti.
“Keterampilan yang didapat di BLK menjadi bekal saat mereka bebas dari penjara, dan tak kembali melakukan kejahatan,” ujar Menteri Agus Andrianto menjelaskan visi program tersebut.
Lokasi pertama yang disambangi oleh Titiek Soeharto beserta rombongan adalah workshop pembuatan batako. Menariknya, batako di sini diproduksi dengan memanfaatkan residu pembakaran batu bara atau flying ash bottom ash (FABA).
Pabrik berskala UMKM ini merupakan salah satu prasarana pembinaan yang melibatkan langsung para narapidana. Dalam pelaksanaannya, proyek ini dikelola melalui kerja sama strategis antara Kemenimipas dan PT PLN (Persero).
Program pengolahan limbah FABA menjadi produk bernilai guna ini mendapatkan apresiasi positif dari tim kunjungan kerja. Selain mampu memberikan nilai ekonomis bagi warga binaan, aktivitas ini juga dinilai sangat ramah lingkungan.
