Langsung ke konten
Rabu, 28 Oktober 2026
Nasional

Prabowo Tersenyum Lihat Sambutan untuk Sherly Tjoanda: Mirip Pemenang Piala Citra

Foto: Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden

GORONTALO – Kehadiran Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, dalam acara Puncak Pekan Nasional (Penas) Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo mencuri perhatian Presiden RI Prabowo Subianto. Gemuruh sambutan meriah dari masyarakat yang memadati lokasi acara membuat suasana mendadak riuh.

Momen menarik ini terjadi saat Presiden Prabowo Subianto sedang menyampaikan pidato dan menyapa satu per satu kepala daerah. Ketika nama Sherly dipanggil, sorak-sorai penonton langsung pecah memenuhi arena.

Sherly Tjoanda pun langsung berdiri dan melempar senyum lebar ke arah hadirin. Melihat reaksi publik yang begitu antusias, Presiden Prabowo sempat menahan pidatonya sejenak sembari tersenyum simpul.

“Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda. Seperti menang Piala Citra,” seloroh Prabowo yang langsung memancing tawa hangat dari para peserta yang hadir di lokasi, Rabu (24/6/2026).

Sherly Tjoanda sendiri resmi menjabat sebagai Gubernur Maluku Utara sejak 20 Februari 2025. Bersama wakilnya, Sarbin Sehe, ia berhasil memenangkan Pilkada 2024 dengan dukungan koalisi besar mulai dari Demokrat, PAN, PPP, PKB, hingga Gelora.

Selain momen cair tersebut, Presiden Prabowo memanfaatkan podium Penas XVII untuk melayangkan kritik keras. Ia menyindir keras para pakar yang dinilainya tidak patriotik karena kerap mendukung kebijakan impor beras yang merugikan petani lokal.

Presiden kemudian mengenang masa lalunya saat menjabat sebagai Ketua Umum HKTI. Kala itu, ia secara tegas memprotes rencana impor beras kepada Menko Perekonomian saat itu, Aburizal Bakrie, namun mendapat penolakan dari penasihat menteri.

“Banyak pakar-pakar yang pintar-pintar, sampai sekarang masih menganggap dirinya pintar mengatakan untuk apa kita membela petani Indonesia,” kritik Prabowo dalam pidatonya.

Ia menegaskan bahwa kebijakan impor, terutama menjelang musim panen, merupakan pukulan telak bagi sektor pertanian. Kebijakan keliru tersebut dinilai menghancurkan harga gabah dan kesejahteraan petani di daerah.

“Apalagi impor beras pada saat petani mau panen, hancur harga untuk petani. Petani kita tidak bisa untung, tidak kembali modal,” tegas Kepala Negara.