Langsung ke konten
Rabu, 28 Oktober 2026
Nasional

Prabowo Perluas Program Magang Nasional, Kuota Naik Jadi 150 Ribu Peserta pada 2026

Foto: BPMI Setpres/Unggahan Akun Media Sosial @sekretariat.kabinet

JAKARTA — Pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan resmi meluncurkan angkatan kedua Program Magang Nasional (PMN) 2026 pada Senin (29/6/2026). Program yang mengakar pada inisiasi Presiden Prabowo Subianto ini menargetkan perluasan cakupan secara masif hingga menyerap 150 ribu peserta.

Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa program ini dirancang untuk menjawab pekerjaan rumah (PR) besar pemerintah dalam memangkas angka pengangguran terdidik. Fokus utamanya adalah menjembatani para lulusan sarjana (S1) agar bisa langsung terserap ke dunia kerja komersial.

“Salah satu PR Pemerintah yang terus ada sejak dulu adalah bagaimana caranya mahasiswa khususnya S1 yang lulus kuliah bisa langsung dapat kerja dan dapat gaji,” ujar Teddy dalam keterangan resminya.

Untuk merealisasikan target tersebut, Presiden Prabowo menginstruksikan Menaker Prof. Yassierli beserta tim untuk memperkuat ekosistem PMN sejak tahun lalu. Tahun ini, para peserta akan ditempatkan di sekitar 8.800 perusahaan BUMN dan swasta di seluruh penjuru Tanah Air.

Selama enam bulan masa magang, para sarjana baru ini tidak hanya menimba ilmu, tetapi juga mendapatkan kompensasi finansial yang menjanjikan. Pemerintah menetapkan besaran uang saku atau gaji berkisar antara Rp3,5 juta hingga Rp6 juta per bulan, menyesuaikan upah minimum kabupaten/kota (UMK) tempat bekerja.

Ada yang berbeda pada pelaksanaan tahun kedua ini. Pemerintah memperluas asas inklusivitas dengan membuka pintu bagi kelompok profesi tertentu dan penyandang difabel untuk ikut serta.

“(Peserta PMN) dilatih dan didampingi oleh mentor atau pekerja senior perusahaannya agar skill-nya bertambah. Tahun ini juga tidak hanya merekrut lulusan S1, tetapi juga dari profesi dan saudara kita dari difabel,” lanjut Teddy.

Langkah perluasan ini mengacu pada kesuksesan PMN 2025 yang sukses menjaring 100 ribu orang. Data internal menunjukkan, 30 persen atau sekitar 30 ribu peserta angkatan pertama langsung diangkat menjadi pegawai tetap, sementara 30 persen lainnya sedang menunggu panggilan kerja dalam waktu dekat.

Teddy optimistis lonjakan kuota peserta tahun ini akan menjadi instrumen strategis yang mempercepat penyerapan tenaga kerja muda. Skema adaptif ini diharapkan mampu melahirkan generasi baru Indonesia yang jauh lebih siap menghadapi ketatnya persaingan industri global.