Langsung ke konten
Senin, 26 Oktober 2026
Regional

522 Anak dan Pelajar di Sidoarjo Hidup dengan HIV, Disdik Siapkan Langkah Pencegahan

Sumber foto: (Pexels/Anna Shvets)

SIDOARJO — Penuluran HIV/AIDS di Kabupaten Sidoarjo mulai merambah kelompok usia muda secara mengkhawatirkan. Delta Crisis Center (DCC) mencatat, sebanyak 522 anak dan pelajar di wilayah tersebut mengidap HIV hingga 1 Juli 2026.

Angka tersebut merupakan bagian dari total akumulasi 7.129 Orang dengan HIV (ODHIV) di Sidoarjo. Rincian data menunjukkan kasus meliputi 13 anak usia PAUD/TK, 44 siswa SD hingga SMP, serta 465 pelajar SMA hingga mahasiswa.

Direktur Program Yayasan DCC, Ferry Efendi, mengungkapkan jalur penularan kasus ini bervariasi. Penularan terjadi mulai dari transmisi ibu ke anak, penggunaan jarum suntik narkoba, hingga perilaku hubungan seksual berisiko.

“HIV hanya menular melalui darah, hubungan seksual, penggunaan jarum suntik, dan ASI. Karena itu masyarakat perlu mendapat edukasi agar memahami cara penularan dan pencegahannya,” ujar Ferry, Senin (20/7/2026).

Menanggapi fenomena ini, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Sidoarjo bergerak cepat menyiapkan langkah mitigasi. Disdikbud siap memperkuat kurikulum kesehatan reproduksi dan memberikan pelatihan manajemen konseling bagi guru serta kepala sekolah.

Kepala Bidang Mutu Pendidikan Disdikbud Sidoarjo, Dr. Lilik Sulistyowati, menegaskan komitmennya untuk melindungi hak pendidikan seluruh peserta didik. Pihaknya berkoordinasi intensif dengan Dinas Kesehatan dan dinas terkait guna mencegah stigma negatif di lingkungan sekolah.

“Kami ingin memastikan tidak ada diskriminasi terhadap peserta didik maupun tenaga pendidik yang hidup dengan HIV. Semua berhak memperoleh layanan pendidikan yang sama,” tegas Lilik.

Lilik mencontohkan pendampingan yang telah diberikan kepada seorang siswi SMP positif HIV di Sidoarjo. Siswi tersebut mendapat pemantauan rutin untuk konsumsi obat antiretroviral (ARV) tanpa mendapat perlakuan diskriminatif dari lingkungan sekolahnya.

Di sisi lain, masyarakat menyoroti pentingnya peran orang tua dalam membentengi anak-anak dari pergaulan bebas. Pengawasan di lingkungan rumah dan media sosial dinilai menjadi kunci utama pencegahan awal.

“Orang tua harus lebih dekat dengan anak, tahu siapa teman-temannya, apa yang mereka lakukan di luar rumah maupun di media sosial. Jangan sampai kita baru sadar ketika sudah terlambat,” ungkap Didik, salah satu orang tua siswa di Sidoarjo.