JAKARTA — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto memanggil sejumlah menteri dan kepala lembaga Kabinet Merah Putih ke Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (28/7). Pertemuan mendadak ini digelar guna membahas langkah pencegahan dan antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjelang masuknya musim kemarau.
Pantauan di lokasi mencatat sejumlah pejabat tinggi negara hadir dalam rapat terbatas tersebut. Mereka di antaranya Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Menko IPK Agus Harimurti Yudhoyono, Kepala BNPB Letjen Suharyanto, Kepala BRIN Arif Satria, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, Kabasarnas Marsda M Syafi’i, serta Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengonfirmasi bahwa agenda utama pertemuan tersebut fokus pada penanganan potensi karhutla. “Kita akan ada ratas khusus tentang Karhutla ya, kebakaran hutan dan lahan,” ujar Raja Juli saat memberikan keterangan di Istana Kepresidenan Jakarta.
Raja Juli menjelaskan, pemerintah menaruh perhatian serius terhadap pergeseran siklus alam El Nino yang diprediksi tiba lebih cepat dari perkiraan awal. Berdasarkan pola empat tahunan, fenomena kekeringan ini seharusnya baru melanda pada 2027 mendatang.
Namun, data terbaru BMKG menunjukkan ancaman tersebut justru berpotensi terjadi pada tahun ini. “Tapi prediksi BMKG ini akan terjadi El Nino yang cepat, jadi awalnya mestinya 2027 akan terjadi tahun ini. Jadi kekeringannya datang lebih cepat ya, dan berakhirnya lebih lambat,” tutur Raja Juli menegaskan.
Di sisi lain, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) langsung mengambil langkah taktis untuk merespons ancaman cuaca ekstrem tersebut. Kepala BRIN Arif Satria menyatakan, pihaknya telah menerima mandat untuk mengembangkan teknologi ketahanan air sebagai langkah mitigasi pasokan air bersih dan sektor pertanian.
Arif menambahkan bahwa riset difokuskan pada pemanfaatan sumber air alternatif agar kebutuhan harian masyarakat dan ketahanan pangan tetap terjaga. “Karena El Nino ya tentu yang diperlukan bagaimana supaya pertanian tetap aman dan juga untuk kehidupan sehari-hari juga aman,” ungkap Arif.
Saat ini BRIN terus berkoordinasi intensif dengan BMKG untuk memetakan wilayah-wilayah yang berisiko tinggi terdampak kekeringan. Peta sebaran risiko tersebut akan menjadi dasar penetapan fokus kebijakan serta arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto dalam penanganan di lapangan.
