Surabaya — Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono (BHS), memberikan apresiasi tinggi terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) saat melakukan peninjauan langsung di SMA Negeri 10 Surabaya, Selasa (16/12/2025). Menurut BHS, program yang diinisiasi Pemerintah Pusat tersebut terbukti berjalan efektif dan memberikan manfaat konkret bagi siswa, baik dari sisi pemenuhan gizi maupun pengurangan beban ekonomi keluarga.

Dalam kunjungan tersebut, BHS berinteraksi langsung dengan para siswa penerima manfaat MBG. Ia menuturkan bahwa mayoritas siswa menunjukkan antusiasme tinggi dan berharap program ini dapat terus berlanjut hingga mereka lulus, bahkan dinikmati oleh adik-adik kelas di masa mendatang.

“Ya, mereka sangat senang dan mengharapkan MBG ini bisa berkelanjutan sampai mereka lulus atau bahkan adik-adik kelasnya. Karena ternyata makan bergizi gratis ini sangat dibutuhkan oleh mereka,” ujar BHS di sela-sela peninjauan.

BHS menjelaskan bahwa sebelum adanya program MBG, kondisi siswa sangat beragam. Tidak sedikit pelajar yang harus menyisihkan uang sakunya untuk membeli makan siang, bahkan ada yang terpaksa menahan lapar karena tidak membawa uang.

“Sekarang seluruh siswa bisa makan dengan gizi yang cukup dan seimbang. Ini membuat mereka lebih fokus belajar dan tidak lagi terbebani soal makan siang,” katanya.

Ia menegaskan bahwa kualitas makanan dalam program MBG tidak disusun secara asal, melainkan berada di bawah pengawasan tenaga ahli gizi. Komposisi makanan diatur agar sesuai dengan kebutuhan pelajar usia sekolah.

“Nilai gizinya dipantau langsung oleh ahli gizi, tidak berlebihan dan tidak kekurangan. Ini menunjang semangat belajar mereka,” jelas BHS.

Lebih lanjut, Bambang Haryo menyebut dampak MBG tidak hanya terlihat dari kondisi fisik siswa, tetapi juga tercermin pada peningkatan prestasi akademik. Guru dan pihak sekolah, kata dia, merasakan adanya perubahan positif dalam konsentrasi dan keaktifan siswa di kelas.

Selain aspek kesehatan dan pendidikan, BHS juga menyoroti manfaat ekonomi dari program tersebut. Ia menghitung bahwa penghematan uang saku harian siswa dapat menjadi nilai signifikan jika dikalkulasikan dalam jangka panjang.

“Kalau siswa menyimpan uang saku Rp10 ribu setiap hari, kemudian ditambah Program Indonesia Pintar (PIP) dari pemerintah, artinya beban orang tua juga menjadi jauh lebih ringan,” ujarnya.

Terkait menu makanan, BHS memastikan tidak ada keluhan dari para siswa. Menu yang disajikan dinilai bervariasi dan sesuai dengan selera pelajar.

“Menunya bagus, bervariasi, dan mereka menikmati. Ini tentu membahagiakan siswa dan orang tua,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala SMA Negeri 10 Surabaya, Teguh Santoso, membenarkan penilaian positif tersebut. Ia menyampaikan bahwa sekolahnya menjadi salah satu penerima awal program MBG di Surabaya sejak diluncurkan oleh Presiden pada 6 Januari lalu.

Menurut Teguh, berbagai pejabat negara, mulai dari Gubernur hingga Wakil Presiden, juga telah meninjau langsung pelaksanaan MBG di SMAN 10. Hasilnya, mayoritas siswa dan orang tua memberikan respons positif.

“Dua bulan lalu kami melakukan survei kepada siswa dan orang tua. Rata-rata berharap MBG ini terus berlanjut. Kalau ada yang tidak makan itu karena faktor alergi atau hal lain, jumlahnya sangat kecil,” kata Teguh.

Saat ini, sebanyak 1.182 siswa SMAN 10 Surabaya menerima manfaat MBG setiap hari. Bahkan pada hari Jumat, sekolah menyediakan dua paket makanan, satu untuk dikonsumsi di sekolah dan satu paket kering untuk dibawa pulang sebagai bekal hari Sabtu.