Merak – Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono, harus menunggu selama sekitar tiga jam di atas Kapal Dalom 1 saat penyeberangan Merak–Bakauheni, Selasa (31/3) lalu, akibat antrean panjang untuk sandar yang dipicu keterbatasan jumlah dermaga di Pelabuhan Bakauheni.

Peristiwa itu terjadi saat pemilik sapaan akrab BHS melakukan peninjauan arus balik di jalur penyeberangan utama yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera. Kapal Dalom 1 yang ditumpanginya tidak segera bersandar di Pelabuhan Bakauheni meskipun telah mendekati area dermaga.

Selama berada di atas kapal, para penumpang, termasuk Anggota Fraksi Gerindra DPR RI ini, harus menunggu beberapa jam. Situasi ini menimbulkan ketidaknyamanan, terutama bagi penumpang yang memiliki jadwal lanjutan di darat.

“Saya mengikuti pelayaran Merak–Bakauheni dalam rangka peninjauan angkutan arus balik. Namun setelah sampai di perairan Bakauheni, kapal ini menunggu selama kurang lebih tiga jam,” ujar BHS.

Kebetulan dalam perjalanan itu, BHS didampingi Ketua Gapasdap Merak, Togar Napitupulu. Ia menanyakan perihal terjadinya keterlambatan yang cukup lama tersebut.

Kepada BHS, Togar mengatakan bahwa jumlah kapal dipaksakan beroperasi dalam jumlah banyak untuk mengurai kepadatan arus balik Merak–Bakauheni, sehingga masing-masing dermaga mengalami penambahan jumlah kapal hingga enam unit.

Kembali menurut BHS, di lintasan Merak–Bakauheni terdapat 72 kapal yang memiliki izin, tetapi yang dapat beroperasi hanya 28 kapal. Artinya, hampir 70 persen kapal tidak dapat beroperasi karena keterbatasan dermaga. Pada saat puncak arus balik, kapal-kapal yang tidak memiliki slot dermaga dipaksakan untuk beroperasi, sehingga satu dermaga menampung hingga enam kapal dari sebelumnya empat kapal.

“Karena dipaksakan enam dari sebelumnya empat dalam satu dermaga, akhirnya kapal harus menunggu cukup lama mengapung di laut hingga tiga jam. Akibatnya, total perjalanan yang seharusnya hanya 1,5 jam menjadi lima jam,” ungkap BHS.

Menurut alumni Teknik Perkapalan ITS Surabaya ini, kondisi kapal yang harus mengapung cukup lama dapat membahayakan pelayaran. Ia menilai hal tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah untuk segera melakukan pembangunan dermaga tambahan guna mengantisipasi kapal-kapal yang belum dapat dioperasikan.

“Ada 72 dikurangi 28 kapal, berarti sekitar 44 kapal yang tidak bisa dioperasikan. Ini harus mendapatkan tambahan dermaga untuk mengantisipasi kapasitas angkut kapal yang ada. Ini perlu diperhatikan,” ujarnya.

Ia berharap, pada periode Lebaran tahun depan sudah terdapat penambahan dua pasang dermaga sehingga kapal-kapal di lintasan Merak–Bakauheni dapat meningkatkan kapasitas angkut hingga sekitar 30 persen tanpa perlu penambahan armada baru. “Jadi kapal-kapal yang ada betul-betul dimanfaatkan secara maksimal dengan memberikan satu fasilitas, yaitu dermaga tambahan,” pungkas BHS.