JAKARTA – Raksasa otomotif asal China, BYD, terpantau masih melanjutkan strategi pemangkasan harga kendaraan meski telah mendapat peringatan keras dari pemerintah setempat. Langkah ini diambil di tengah desakan otoritas China agar para produsen menghentikan “perang harga” yang memicu kekhawatiran deflasi.

Berdasarkan laporan Bloomberg, rata-rata penurunan harga di seluruh lini model BYD meningkat hingga 10 persen pada Maret 2026. Fenomena ini tidak hanya dilakukan oleh BYD, namun juga diikuti oleh rival utamanya, Geely dan Chery, yang memberikan diskon lebih agresif sekitar 15 persen.

Pemerintah China sebenarnya telah memperingatkan bahwa pemangkasan harga yang ugal-ugalan dapat mengancam pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, lesunya penjualan domestik memaksa para produsen untuk terus memberikan insentif besar guna menarik minat konsumen.

Akar permasalahan dari perang harga ini disinyalir berasal dari kelebihan kapasitas produksi yang sangat masif di Negeri Tirai Bambu. Tahun lalu, tercatat hanya 23 juta unit mobil terjual, sementara kapasitas pabrik mencapai 55,5 juta unit per tahun.

Kesenjangan yang lebar ini membuat produsen lokal berupaya menggenjot pasar ekspor, di mana pengiriman kendaraan listrik China melonjak dua kali lipat bulan lalu. Namun, kini para produsen harus menghadapi pengawasan ketat dari regulator terkait sistem pembayaran ke pemasok.

Sebelumnya, produsen sering menunda pembayaran faktur selama berbulan-bulan untuk menjaga arus kas agar bisa memberikan diskon besar. Kini, aturan baru mewajibkan pembayaran dilakukan lebih cepat, yang secara langsung meningkatkan liabilitas pada neraca keuangan perusahaan.

Kondisi ini mulai berdampak pada fundamental perusahaan, di mana rasio utang terhadap ekuitas BYD kini menyentuh angka 25 persen. Pakar industri menilai strategi ini bisa menjadi bumerang bagi kesehatan ekosistem otomotif secara global dalam jangka panjang.

“Hal ini tampaknya menguntungkan bagi konsumen, tetapi sebenarnya tidak. Produsen justru mengalami kerugian dan ini merugikan seluruh sistem,” ungkap Sekretaris Jenderal Organisasi Internasional Produsen Kendaraan Bermotor, Francois Roudier, dikutip dari Carscoops.

Hingga saat ini, persaingan harga di pasar mobil listrik dunia masih menjadi tantangan besar. Para produsen kini dituntut menyeimbangkan antara volume penjualan dan stabilitas keuangan di bawah pengawasan ketat regulator internasional.